Archive for the ‘Agriholti’ Category

Panen Raya Di Gunung Binjai

September 16, 2007

Harapan petani kepada pemerintah

Petani Minta Perbaikan Irigasi HIngga Penggilingan Padi

Suasana di areal sawah di gunung binjau kelurahan teritip tampak tampah. 3 tenda diddirkan. Pada panen itu petani minta pergaikan irigas dan pembangunan penggilingan padi

Panen Raya Di Gunung Binjai

September 14, 2007

Petani Minta Perbaikan Irigasi HIngga Penggilingan Padi

Suasana di areal sawah di gunung binjau kelurahan teritip tampak tampah. 3 tenda diddirkan. Pada panen itu petani minta pergaikan irigas dan pembangunan penggilingan padi

Bidik Perikanan Rusia

August 27, 2007

Badan Pengembangan Ekspor Naisonal menargetkan pangsa pasar produk makanan dan minuman olahan ke pasar ruasisn senilai 55,1 juta atau 0,53 persen dari total impor dunia ruasia yang bernilai Rp 10,4 miliar dolar AS di tahun 2005. (berbagai sumber)

Jenmani Cobra Laku Rp 170 Juta

August 26, 2007

* Tanaman Langka Koleksi Presiden SBY

 Bagi masyarakat biasa mungkin akan terperangah mengetahui harga tanaman seratusan juta lebih. Tanaman apa itu ? Saat pameran Flora dan Fauna Jakarta 2007 di lapangan Banteng Jakarta Pusat yang berakhir MInggu (26/8) terjadi transasksi jenis tanaman langka seharga Rp 170 juta per pot. Tanaman itu dikenal dengan Jenmani Cobra

Daunnya Cuma delapan lembar. Tingginya sekitar 30 sentimeter. Berdaun lebar mirip kepala ular Cobra

“Jenmani Cobra ini sudah dibeli seseorang yang meminta namanaya tidak disebut. Dia mau mbmeli dengan harga Rp 170 juta,” Ujar Ujang penjaga stand Galeri. Daun, peserta pameran Flobra dan Fauna Sabtu (25/8).

Stand ini juga enjual berbagai jenis tanaman hasil silangan Jenmani Cobra satu pot Rp 10 jutaan. Tanman sejenis Cobra namun daunnya agak panjang bernama Black Beauty ukuran tinggi 20 sentimeter dijaula Rp 74 juta

Jenmani Cobra

 Merupakan jenis tnaman yang dimliki Presiden Susilo Bambang Yudoyono.

Ketika ditanya apakah tanaman ini mempunyai pengaruh magic. Ujang mengatakan tidak ada magik-magikan.

Tanaman ini lebih mahal lagi ktika berbuah. Satu buah saja harganya Rp 2,5 juta.

Contoh lain tamaan yang bias cepat naik adalah tanaman Gelombang Cinta (jenis sama Jenmani Cobra namun daunnya agak tebal dan disisi kiri kanan daun bergelombang). (berbagai sumber)

Ekspor Ikan Capai 30 ton Per Bulan

August 14, 2007

>Ke Singapura, Korea dan Jepang

BALIKPAPAN, TRIBUN – Ekspor perikanan di Balikpapan tak terpengaruh embargo hasil perikanan oleh China. Pasalnya, selama ini Kalimantan Timur khususnya Balikpapan lebih banyak mengekspor hasil perikanannya di Singapura, Korea dan Jepang. Total ekspor setiap bulannya mencapai 30 ton. Jenis ikan yang diminati adalah ikan kerapu sekitar 40 persen dan jenis udang berkisar antara 50-60 persen.
Hal ini diungkapkan Kepala Kantor Perikanan dan Kelautan Balikpapan Amin Latief usai Coffee Morning di kantor walikota, Senin (13/8). “Kita tidak pernah mengekspor ke China. Sudah sejak awal permintaan kebanyakan berasal dari Singapura Korea dan Jepang,” tutur Amin.
Ditambahkan Amin, selama ini produk hasil laut Kaltim tak pernah mendapat komplain dari masyarakat. Bahkan setiap tahunnya, permintaan ekspor membludak. Namun karena hasil perikanan Balikpapan lebih mengandalkan hasil tangkapan nelayan sehingga permintaan belum bisa dipenuhi. Produk perikanan juga belum dikelola dengan maksimal karena Balikapan merupakan daerah kota yang tidak secara khusus mengandalkan penghasilan dari perikanan.
“Kita harus menekankan kualitas untuk mempertahankan kepercayaan pelanggan. Makanya, mulai dari penangkapan, ke penampungan untuk disortir dan diolah hingga pengepakan benar-benar dikontrol ketat. Makanya selama ini kita belum pernah mendapat komplain,” tuturnya.
Ia mengaku potensi perikanan di Kaltim cukup besar. Dari jumlah permintaan pasar pun tergolong tinggi. Namun karena hasil perikanan lebh mengandalkan tangkapan nelayan sehingga jumlah ekspor kerap fluktuatif tergantung kemampuan. Total penghasilan dari ekspor belum bisa terdeteksi. Karena selama ini, penghasilan dari ekpor perikanan langsung masuk ke kantong provinsi.
“Kita tidak bisa memberi data berapa penghasilan kita dari ekspor. Di Balikpapan ini hanya jadi sentra pengumpulan hasil pengolahan perikanan. Perusahaan-perusahaan perikanan pun yang banyak tersebar di Balikpapan tak kita ketahui pasti ekspor yang mereka lakukan,” tandasnya. (lia)

Masyarakat Was-was

August 8, 2007

Menanggapi kasus penangkapan penjual daging ilegal, para pedagang daging di pasar-pasar tradisional mengeluh. Menurut mereka hal ini juga akan merugikan mereka, walaupun mereka tidak melakukan hal yang serupa.
Seperti yang diutarakan oleh Amir, Rabu, (7/8). “Hal ini pastinya sangat merugikan penjual daging. Dengan adanya berita seperti ini, otomatis pedagang daging yang mengikuti aturan juga kena getahnya. Konsumen pastinya menduga kita-kita ini juga menjual daging ilegal dan ada campurannya. Jadi konsumen takut untuk membeli daging, hal ini bisa mengurangi pelanggan dan pendapatan kita.” ujarnya.
Daud juga menyerukan hal yang sama dengan Amir, “Takutnya kalau ada berita seperti ini nanti konsumen tidak mau membeli daging lagi. Pastinya ini merugikan sekali bagi kita karena pendapatan pasti berkurang. Karena konsumen takut beli daging, takut tidak halal. Kita yang tidak tau apa-apa juga kena imbasnya. Kalau sudah begini, bagaimana nasib kita.”ujarnya.
Begitu juga Idrus, penjual daging ini mengatakan hal ini pasti berimbas pada pedagang daging yang lain.. “Pembeli pastinya berkurang, mereka pasti takut beli daging. Takut tidak halal dan tidak bersih. Hal ini pastinya mengurangi pendapatan kita. Ujung-ujungnya berimbas ke pedagang daging yang lain. yang tidak tau apa-apa dan menjual daging sesuai dengan aturan. Kalau bisa penjual daging-daging ilegal itu diberi sanksi yang sesuai, karena dia sudah merugikan orang banyak. Bahkan bisa membahayakan masyarakat.” katanya.
Bukan hanya penjual daging saja yang mengeluh dengan adanya kasus penjualan daging ilegal ini. Tetapi konsumen pun mengeluh.
Wati, seorang ibu rumah tangga menjadi was-was kalau membeli daging. “Saya jadi was-was mau beli daging. Takut dagingnya ilegal atau ada campurannya dan tidak sehat. Nantinya akan berimbas pada kesehatan kita. Jadi kalau beli daging harus teliti agar tidak terkecoh.” ujarnya.
“Bedanya daging sapi dengan daging yang lain, kalau daging sapi warnanya merah cerah, sedangkan kalau daging babi warnanya lebih muda. Saya juga jadi agak takut-takut untuk beli daging, soalnya kan daging kalau sudah bercampur jadi satu susah dibedainnya. Apalagi kalau daging ilegal. Takutnya kalau dagingnya berasal dari bangkai hewan, itu kan haram untuk dikonsumsi. Pedagang yang  menjual daging seperti itu sebaiknya dihukum saja. Hal ini kan dapat merusak kesehatan masyarakat.” ujar Rusmini ibu run\mah tangga yang ditemui di Pasar Klandasan.(mg3)

Dinas Peternakan akan melakukan Operasi Ke Pasar-Pasar

August 8, 2007

Balikpapan, Tribun – Setelah tertangkapnya Darwan, 36, penjual daging payau ilegal, Senin (6/7) kemarin, Dinas Peternakan Balikpapan akan melakukan operasi daging ilegal dan pemusnahan daging dipasar-pasar tradisional dan swalayan.
Menurut Noorlenawati, Kasubdin Kehewanan dan Peternakan Dinas Peternakan Balikpapan daging payau tidak haram dikonsumsi, tetapi payau adalah hewan yang dilindungi oleh pemerintah, “Daging payau merupakan daging ilegal Karena payau itu kan sejenis rusa yang dilindungi oleh pemerintah, jadi siapa saja yang menjualnya akan dikenai sanksi. Maka dari itu kami akan melakukan operasi daging ilegal ke pasar-pasar.” ujarnya ketika ditemui dikantornya Rabu, (7/7).
Penjualan daging ilegal merupakan suatu tindakan pidana, dan pelakunya harus dikenakan sanksi karena telah melanggar:
- UU RI No.5 Tahun 1990 Pasal 21 yang berisi tentang dilarangnya menyimpan, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati,
- UU RI No.5 Tahun 1990 Pasal 40 ayat (2) yang berisi tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya,
- UU RI No. 23 Tahun 1991 tentang pengelolaan lingkungan hidup
- Peraturan Pemerintah No.22 Tahun 1983 tentang kesehatan masyaraka dan vasener.
Selain itu yang dikhawatirkan dari adanya daging ilegal ini adalah proses pemotongan daging tersebut. “Daging ilegal kan proses pemotongannya tidak melalui Rumah Pemotongan Hewan (RPH), jadi kita tidak tau apakah daging itu aman dan sehat untuk dikonsumsi masyarakat, apakah hewan itu dipotongnya sesuai dengan prosedur, apakah daging itu halal untuk di konsumsi, apakah daging itu utuh dan berasal dari hewan yang hidup atau bahkan bisa saja dari bangkai hewan yang mati. Apalagi daging kan banyak di cari masyarakat, karena daging merupakan sumber protein  hewani yang tinggi dan sangat di butuhkan oleh tubuh dan sangat baik untuk pertumbuhan serta merupakan salah satu komoditi perdagangan yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Saya menghimbau kepada ibu-ibu, kalau
membeli daging harus  lebih teliti ” ujar Noorlenawati.

Kriteria Daging Yang Sehat:
- Daging Sapi
1. Warna merah cerah (tidak gelap, tidak pucat, tidak kebiruan dan tidak terlalu merah)
2. Konsistensi liat (kenyal)
3. Bau dan rasanya aromatis
4. Mempunyai lapisan lemak tipis, kecuali bagian tertentu dan berwarna kekuningan.
- Daging Ayam
1. Permukaan kulit putih kekuningan, tidak terdapat memar dan bercak-bercak merah atau biru dibawah kulit, agak mengkilat
2. Bagian dalam karkas putih agak pucat
3. Serabut otot putih atau pucat
4. Pembuluh darah dileher dan sayap kosong (tidak ada sisa-sisa darah)
5. Bau dan aromanya spesifik atau agak amis sampai tidak berbau
6. Konsisyensi otot dada dan paha kenyal.

Tips Membeli Daging
1. Beli daging yang memiliki cap (stempel yang berasal dari Rumah Potong Hewan (RPH) atau Rumah Potong Unggas (RPU)
2. Tidak membeli daging daro pedagang yang tidak memperhatikan praktek higienis yang mencakup lingkungan, peralatan, dan kebersihan diri
3. Tidak membeli daging dari sumber (pedagang/pengusaha daging, retailer) yang tidak mengenal asal- usil daging.
4. Tidak membeli atau mengkonsumsi  produk daging matang yang sudah lama tanpa pemanas
5. Tidak membeli daging yang tidak disimpan dalam lemari pendingin atau digantung, terlindungi dari lalat atau serangga dan debu
6. Membeli ditoko atau kios daging yang resmi dan memperhatikan praktek
7. Daging yang sudah di beli. dikemas dengan baik, tidak dicampur atau bersentuhan dengan produk atau makanan lain.

Anthorium, Aglonema hingga Anggrek

July 29, 2007

Menyambut Hari Lingkungan Hidup AAB mengadakan Pameran Bunga

Balikpapan, Tribun – Dalam rangka Hari Lingkungan Hidup, Akademi Akutansi Balikpapan (AAB) bekerjasama dengan Perhimpunana Anggrek Indonesia (PAI) menyelenggarakan pameran bunga, Jum’at (20/7). Pameran yang bertempat di halaman parkiran AAB ini terdiri dari 11 stand yang diikuti oleh para penjual dan pengoleksi tanaman di Balikpapan.
Pameran yang dilaksanakan selama tiga hari  mulai hari Jum’at sampai Minggu di buka oleh Pudir 3 AAB, Bapak Arif Fadhilah. Dalam sambutannya ia mengucapkan terima kasih dan selamat datang kepada peserta pameran yang ikut membantu jalannya acara yang diselenggarakan oleh AAB.
Yune, selaku panitia berharap acara yang mereka selenggarakan berjalan dengan lancar. “Semoga aja acara ini berjalan sesuai dengan rencana dan tidak ada hambatan.” katanya.
Bunga-bunga yang dipamerkan bermacam-macam, mulai dari jenis Anthorium, Aglaonema, Anggrek, Keladi-keladian, Kaktus, dan masih banyak lagi. Harga yang di tawarkan pun bermacam-macam mulai dari puluhan ribu sampai jutaan. Misalnya, Anthorium jenis Corong dijual dengan harga Rp 2.000.000. “Daya tarik dari anthorium jenis ini adalah bentuk daunnya yang mirip dengan corong dan warnanya yang hijau tua.” ujar Ari pemilik stand nomor 1 yang khusus memamerkan bunga jenis Anthorium. Salain itu jenis Anthorium yang banyak diminati oleh pencinta tanaman adalah jenis Hookery dan jenis Kristin. “Kalau jenis Hookery ini, yang besar harganya Rp 2.500.000. Kalau jenis Kristin Rp 2.000.000, jenis Kristin ini hasil silangan dari Anthorium jenis Gelombang Cinta dan jenis Keris.” sambung Ari.
Perawatan untuk Anthorium tidak terlalu sulit, “Yang penting tanahnya harus poros, biasanya tanah di campur dengan media pakis cacah. Kalau pupuk kita biasa menggunakan pupuk kandang, dan untuk penyiraman tergantung medianya. Kalau medianya (tanah/pakis) lembab, disiramnya dua hari sekali dan kalau media kering, disiramnya satiap hari. Waktunya yang paling baik, kalau pagi dibawah jam 9 dan sore dibawah jam 5.” ujar Ari.
Untuk Aglaonema jenisnya juga bermacam-macam, seperti jenis Kongo atau Giant, dan yang paling banyak di jual di toko-toko bunga biasanya jenis Sansi Vera. “Kalau yang daunnya merah ini namanya Pride Sumatera, ini biasanya paling sering di cari oleh pengunjung. Soalnya unik seperti bunga plastik.” ujar widie, penjaga stand bunga nomor 2.
Yang lebih unik adalah bunga Kantung Semar. Bunga ini memiliki kantung yang berfungsi untuk menangkap serangga. Jenisnya juga bermacam-macam, ada jenis Renuartiana dengan harga Rp 250.000, jenis Ambularia Rp 175.000, dan jenis Kantung Semar yang langka adalah Bicalcarata.
Selain itu juga ada kaktus yang harganya berkisar dari Rp 15.000 sampai Rp 55.000.
Dari kesebelas stand bunga, stand nomor 4 terlihat lebih unik. Karena menjual tanaman dengan media Hidrogel, yang menyerupai batu kristal. Tapi jika dipegang ia terasa basah dan lunak menyerupai agar- agar. Gel yang dijadikan  media hidroponik ini mampu menggantikan tanah, batu dan air. “Tanah dijamin tidak mungkin kekeringan karena daya simpan air pada gel mencapai 100 kali lipat bobotnya dan cukup untuk persediaan selama 3 tahun.” ujar Yuli pemilik stand nomor 4.
Media Hidrogel sangat praktis dan efisien, karena tidak perlu repot untuk mengganti tanah, menyiram dan menmupuk. Karena bahan penyerap yang ada pada Hidrogel mengandung unsur beberapa kadar gizi yang  dibutuhkan oleh tumbuhan dan butiran-butiran kristalnya tidak mengandung racun. Hidrogel  dapat merubah tanaman menjadi lebih kelihatan segar. (mg3)