* Pameran Lukisan Di Hotel Mega Lestari 1-10 September 2007
Beragam lukisan dengan cirri khas masing peluknsya mengundang perhatian pengunjung.
Lukisan berjudul warisa semu karya Cadio Tarompo. Menggambarkan dua anak laki dan prempuan sedang menyaksikan pertandingan gold drai luar pagar. Keduanya duduk dip oho kering.
Lukisan ini dibanderol Rp 17 juta.
Dari lukisan pria yang mengunakan topi ini menambha lukisannyadengan glitter (alat make-up untuk mengilatkan wajah
Archive for the ‘Art and Gallery’ Category
Lukisan Menggunaan Glitter
September 7, 2007Hargailah Perasaan Model
July 29, 2007*Teknik Photography ala Hary Subastian
Balikpapan, Tribun -Sebagai seorang fotografer, sosok seorang model merupakan obyek paling menarik untuk dijadikan hiasan lensa. Apalagi fotografer yang berkecimpung di dunia fashion photograpy. Wanita cantik seolah-olah memiliki daya tarik tersendiri, apalagi saat berpose di depan lensa kamera. Namun, keberadaan seorang model harus tetap menjadi sebuah icon yang harus dihargai.
Itu lantaran profesinya yang juga manusia biasa seperti kita.
Dengan demikian, seorang fotografer itu harus bisa menghargai dan menjaga perasaan setiap model yang dipotretnya, agar tidak tersinggung. Demikian dikatakan Hary Subastian, dalam Photography workshop yang diselenggarakan Total Photography Club (TPC), di Ballroom Hotel Blue Sky, Balikpapan, Sabtu (23/6). Dihadapan sekitar 50 pecinta fotograpy di Balikpapan, Hary menceritakan berbagai pengalamannya di dunia potret memotret.
“Jadi, kalau dia (model ‘red) cantik terus terang saja katakan cantik. Kalau ada bagian tubuhnya yang menarik, katakan apa adanya, agar model bisa lebih senang dan percaya diri,” kata lelaki yang juga ftografer majalah Cosmopolitan ini. Namun sebaliknya juga demikian, lanjut Hary, bila sang model itu ada yang kurang atau kurang bagus, maka katakanlah apa adanya. Tetapi yang wajar, yang tidak menyinggung perasaannya. Menurut Hary, metode seperti itu tidak pernah ada dalam teori, tetapi berdasarkan pengalamannya, yakni untuk menjalin hubungan yang baik antara fotografer dan model.
“Jadi, bila sang model haus, ya diambilkan minum,” ujarnya.
Workshop yang mengambil tema Fashion and Glamour Photography itu, Hary memaparkan lebih dalam lagi dunia permodelan. Bila terjun di dunia swim wear photograpy, ungkap Harry, seorang fotografer harus memiliki sentuhan khusus, dan jangan pernah berfikir ‘ke arah situ’. “Bersikaplah secara wajar dan jangan nafsu. Bila nafsu, jangan ditunjukkan,” katanya. Karena, menurut Hary, terkadang ada model yang tidak cocok dengan cara-cara fotografer memotret.
Dalam workshop itu, Hary juga menjelaskan secara detail teknik memotret model, tata rias, busana dan komposisi bagroud yang tepat, sehingga menghasilkan gambar yang bagus. Acara workshop itu juga diisi dengan sesi pemotretan model. Dua sesi ini dilakukan di dalam dan di luar ruangan, seperti di sesi pemotretan di kolam renang Hotel Blue Sky.
Ketua Panitia workshop photography TPC Ali Ridwan sebelumnya mengatakan, kemampuan seorang fotografer dinilai dari hasil fotonya. Apakah hasilnya mampu mengangkat atau menjual apa yang dipotretnya. Dalam pemotretan fashion and glamour, fotografer harus bisa menampilkan keindahan seorang model, pakaian yang ia kenakan, pernak-perniknya dan tata rias yang ia kenakan.(joi)
Tidak Memiliki Gedung Kesenian
July 29, 2007Balikpapan, Tribun -Kerukunan Keluarga Etam Koetai (KKEK) merupakan komunitas masyarakat Kutai Kartanegara di Balikpapan. Saat ini jumlah anggota paguyuban yang sudah 20 tahun berdiri di Balikpapan ini sudah sekitar 3000 orang. Pada setiap even-even kesenian budaya yang diadakan pemerintah Balikpapan, KKEK yang kental dengan adat budanya tidak pernah absen dalam berpartisipasi menyuguhkan keseniannya.
Berbagai kesenian rakyat Kutai dari mulai tingkilan, jepen, tarian perang bahkan tarian hudoq-hudoq yang identik dengan suara mendesisnya kerap kali ikut meramaiakan kota ini pada even-even budaya. Sehingga penampilan barisan KKEK pada pawai budaya bulan Februari lalu ini benar-benar memukau penonton, terutama warga luar Kaltim.
“Sebagai orang yang memiliki garis keturunan kesultanan Kutai, saya merasa punya bertanggung jawab untuk ikut melestarikan dan mewariskan budaya ini. Sehingga tidak akan pupus pada era globalisasi nanti,” kata sekeretaris dan Plt KKEK Balikpapan, Adji Winda Vanesya. Tidak hanya aktif di paguyuban, sebagai putra daerah Adji juga kerap kali berperan dalam berbagai pementasan terutama pada seni tari. Maklum, Adji termasuk keturunan keluarga penari keraton, jadi wajar kalau kini ia mewarisinya.
“Tarian gong itu berkisah tentang seorangputri yang diperebutkan oleh beberapa lelaki. Akhirnya laki-laki itu berperang dan si putri terdesak naik ke atas gong,” kata Adji mengisahkan. Sedangkan tarian lain yang biasa ditampilkan di keraton adalah tarian khusus, yakni tari topeng, tari kanjar laki dan bini, serta tari ganjur yang biasa di hadirkan pada saat pesta adat Erau.
Kedepannya, lanjut Adji, paguyuban KKEK akan dikembangkan tidak di bidang ekonomi, melainkan juga kearah lain seperti perekonomian, yang intinya bisa mensejahterkan keluarga besar KKEK. “Yang perlu digaris bawahi adalah untuk mengangkat harkat dan martabat orang Kutai yang selama ini terisolir,” ujarnya. Yang disayangkan lagi oleh Adji, pemerintah kurang begitu peduli dengan adanya keragaman budaya di Balikpapan, seperti tidak adana fasilitas gedung kesenian dan dana pembinaan bagi seni budaya.(joi)
Putu Wijaya Ajarkan Akting
July 5, 2007Aku campakkan kembali bayi di tempat tapi terlambat
Ia sudah tercabut dari akar
Kuatir ia tercampak ke jurang
Kesumpal mulutnya dengan kotoran kebon tapi dia kalap
Kutipan syair karya Putu Wijaya itu menghiasi dinding gedung nasional Balikpapan. Tak hanya sebair syart yang ahdir di gedung itu, tapi pengarangnya pun yakni Putu Wijaya juga hadir di tengah-tengah undangan yang terdiri dari para guru dan pecinta seni sastra serta pelajar di Kalimantan timur Selasa (3/7).
Sosk penyair tenar ini memang sudah ditunggu-tunggu pecinta seni di kaltim. Hal ini dibuktikan dengan hadirnya 86 pesrta dari berbagai daerah di kaltim, termasuk berau grogot, pasir, samarinda dan tenggarong.
Dalam workshop seni teratur dan sastra se-Kaltim yang berlangsung dari 3-7 Juli 2007, Putu Wijaya akan menjadi satu-satunya instruktur yang didatangkan langsung dari Jakarta oleh Dewan Kesenian balikpapan (DKB)
Dalam workshop membahas seni berakting. Putu juga akrab menyapa para hadirin. Hal ini ditunjukkan dengan pola duduk membentuk lingkaran dan berdekatan satu sama lain. Dengan pola itu, ia mengingkan adanya diskusi yang nyaman dan lebih akrab antara dia dan hadiri.
Menurut ketua DKB, Darwis M Noor, degna adanya workshop ini diharapkan nanti di balkpapan dan kaltim lahir sastrawan sejati. Materi yang diberikan dalam workshop selain aktif juga ada penlisan naskah, drama, puisi, cerpen, penyeutradaan. Sehingga para guru dapat menyerap ilmu seni sastra dan teater yang nantinya bisa disampaikan kepada murid-muridnya.
“Workshop yang berlangung tiga hari bisa bermanfaat bagi para guru. Jadi apabila nantinya dibutuhkan instruktur seni sastra dan teater, sekolah tidak perlu lagi mengambil guru dari luar,” kata Darwis.(Balikpapan, Tribun)
Ratusan Penonton Betah Hingga Subuh
June 17, 2007* Acara Seni dan Budaya digelar Telkomsel
* Wisanggeni Berhasil Buat Kayangan
LAYAR baru saja dibuka oleh Ki Dalang Tanthut, yang khusus didatangkan jauh-jauh dari Solo, Jawa Tengah, untuk membawakan lakon Wisanggeni Mbangun Kayangan, Sabtu (16/6) malam pukul 22.00, di Lapangan Parkir Bukopin. Tokoh Semar, sebagai tokoh yang terkenal bijaksana dimunculkan pertama kali.. Semar mengeluh dengan diri pribadinya, bahwa saat ini jaman telah berubah.
“Anak-anak muda jaman sekarang sudah tidak memperhatikan moral lagi, sak karepe dhewe (semaunya sendiri). Manusia juga saat ini telah hilang rasa kemanusiaannya dan hanya memetingkan diri sendiri, egois. Karena itu, saya mau cari Bambang Wisanggeni untuk kuberikan tugas membuat Kayangan, sebuah tempat dimana kedamaian dan kebaikan di dunia akan didapatkan. Sehingga akhirnya, dapat mengembalikan anak-anak muda untuk tetap memperhatikan moral dan kebaikan di kehidupan ini,” harap Semar mantap.
Semar lalu bertemu Wisanggeni dan menyampaikan maksudnya. Keinginan Semar ini disambut baik oleh putra Arjuna dengan Dewi Dersonolo itu. Pilihan Semar memang tepat, karena si Wisanggeni dinilainya merupakan tokoh anak muda yang berani, cerdas, sakti dan berbudi luhur.
Namun, sebelum membuat kayangan, tempat yang diidam-idamkan itu, Wisanggeni harus lebih dulu memiliki pusaka Kyai Cokro Baskoro. Sedangkan untuk mendapatkan pusaka andalan para dewa ini, anak muda ini harus lebih dulu meminta ijin meminjamnya kepada Dewa Sang Bataraguru. Pusaka ini dipercaya sangat ampuh memberantas segala kemaksiatan, penyakit mematikan dan segala masalah sosial yang saat ini tengah melanda manusia, juga termasuk membangun moral anak muda saat ini yang dinilai dunia pewayangan sedang morat-marit dan harus ditata.
Rumitnya lagi, untuk berhasil mewujudkan pusaka tersebut, Wisanggeni wajib mencari Cupu Manik Gambaring Donyo (sebuah cupu sakti yang bergambar lambang dunia). Mencari Cupu Manik inilah yang membuat jalannya cerita yang digelar Ki Dalang Tanthut menjadi kian panjang. Ki Tanthut ternyata dalang yang pintar dan lihai memainkan wayangnya, terutama saat terjadi perang tanding kesaktian antara Wisanggeni dan musuhnya Pendeta Durno yang didukung para pihak dari Kurawa yang juga berusaha menjegal agar Kayangan yang diharapkan dari pihak Pandawa tidak boleh terwujud.
Ratusan penonton yang menyaksikan pertunjukan wayang kulit, di acara Seni dan Budaya yang digelar Telkomsel ini, tumplek blek dan tetap betah melek sampai subuh sekitar pukul 04.00 Minggu (17/6) kemarin, hingga bubarnya acara. Penonton tampak terus menerus bertepuk tangan memberi aplaus kepada dalang yang juga jago membuat guyonan segar. Penampilan dalang Tanthut yang prima malam kemarin sungguh memberikan tontonan yang bagus kepada masyarakat Jawa Balikpapan khususnya, yang haus akan hiburan budaya Jawa di tanah perantauan. Di akhir cerita, segala perjuangan jujur dan ditempuh dengan jalan yang benar oleh Wisanggeni, akhirnya kesatria muda yang tampan itu berhasil membawa pulang Cupu Manik ke negara Ngastina.
Sebelum pertunjukan wayang kulit dimulai, terlebih dahulu diserahkan tokoh wayang Wisanggeni dari Herry Setiawan, selaku Manager graPARI Balikpapan kepada Kabag Pembangunan Pemkot Balikpapan Drs G Rusdi Hatiti, yang mewakili Walikota Balikpapan. Herry mengatakan, pertunjukan wayang kulit dengan lakon Wisanggeni secara kebetulan menceritakan tentang tokoh yang terkenal sebagai ahli komunikasi dijamannya yang sangat cerdas, dan telah berhasil membangun Kayangan. “Cerita ini mirip dengan sejarah Telkomsel yang dalam perjalanannya membangun pulau Kalimantan. Sebab sebelumnya terdapat ratusan daerah hingga wilayah yang terpencil di mana Telkomsel, yang pertama dan sendirian membuka isolir daerah tersebut,” ucapnya.
Di acara ini pula, Telkomsel memberikan kesempatan kepada penonton untuk mengaktifkan Nada Sambung Pribadi (NSP)Top 12 dan NSP lagu-lagu Jawa. Tak hanya itu, Telkomsel juga membagi- bagikan souvenir kepada penonton yang berhasil menjawab pertanyaan seputar Telkomsel.(rin/jnh)