Archive for the ‘Electricity’ Category

Telan dana Rp 350 Miliar

September 23, 2007

* Pemkab Malinau-Kutim dan PT BEI bangun PLTU

* Malinau 2×7 MW dan Kutim 2×10 MW

 

Pemkab Kutim dan Malinau bekerjasama PT Bina energi Investama (BEI) akan membanugn pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang diperkrian selsai 2010. hasilkan listrik 2×7 MW di malinau dan 2×10 MW di Kutai Timur. Telan dana Rp 350 miliar.

Di Malinau butuh 7 MW sementara kemapuan PLN 4 MW.

Kedua daerah itu membentuk perusahaan patungan dengan nama Sangatta Power.

 

 

Hemat RP 1.500/Kwh

Pembangunan PLTU mulut tambang di Kabupaten Malinau dan Kutai Timur akan membeirkan pengaruh positif bagi PLN. PLTU ini mampu menghemat biaya produksi mencapai Rp 1.500/kwh.

PLN prioriaskan listrik di waduk manggar

September 23, 2007

* Kurangi pemadaman untuk perlancar distribusi

Genset di dua titik di Waduk Manggar dan Instalasi pengolahan air (IPA) tidak cukup memnuhi kebutuhan listrik. Defisit listrik 474 Kva di waduk manggar dan 585 kva di IPA Damai.

Kebutuhah listrik Waduk Manggar 1.730 Kva dan IPA Damai 1.385 Kva. Dengan kekuatan hanya 1.256 kva dan IPA hanya 800 kva.

Penggerakan listrik mati 52 jam di wadukgn manggar. Mengakibatkan penurunan produksi 20 persen atau 1.500 m3..

PLN Minta 2 X 100 MW

August 8, 2007

> Atasi Krisis Listrik di Sistem Mahakam
BALIKPAPAN, TRIBUN – Mengatasi krisis listrik di Sistem Mahakam yang sudah sedemikian parahnya, PT PLN Wilayah Kalimantan Timur tengah mengajukan usulan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 2 X 100 MegaWatt, mengambil lokasi berdampingan dengan  Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Tanjung Batu Kabupaten Kutai Kertanegara. “Saya tidak perlu tahu apakah nantinya akan masuk crash program atau dari relokasi proyek. Saat ini saya butuh minimal 2 X100 MW di sistem Mahakam dan telah saya usulkan ke pusat,” kata GM PT PLN Wilayah Kaltim, Arifin Syah, Selasa (7/8).
Usulan tersebut, lanjut Arifin telah mendapat lampu hijau dan segera dilakukan pembangunan. “Lokasi saya sudah punya. Ada tanah saya seluas 200 hektar di dekat PLTGU Tanjung Batu. Untuk pembangunan 2 X 200 MW paling menghabiskan lahan sekitar 20 hektar saja,” ujar Arifin.
Dituturkannya, kondisi kelistrikan di Sistem Mahakam sudah akrab dengan istilah byar pet. Hal ini ditenggarai adanya beberapa permasalahan seputar pembangunan maupun pasokan energi atau bahan bakar. Antara lain, belum selesainya pembangunan PLTU Tanjung Batu oleh PT Cahaya Fajar Kaltim (konsorsium antara Perusda Kelistrikan Kaltim dengan Jawa Pos Group), berhentinya pasokan gas dari Medco ke PLTGU Tanjung Batu, usia pembangkit diesel yang sudah tua, serta ketidakmampuan PLN investasi pembangkit. Selain itu, sampai saat ini PLN belum memiliki mesin pembangkit cadangan, sehingga pembangkit yang ada beroperasi secara terus menerus.
Proyek pembangkit yang masuk crash program versi Kementrian ESDM meliputi PLTU 2 X 25 MW di Samboja dan PLTU 2 X 65 MW di sekitar Penajam, yang keduanya masuk dalam Sistem Mahakam. Serta PLTU 2 X 7 MW di Kabupaten Nunukan. Tapi pembangunannya ternyata mengalami kendala. Makanya saya minta ada peninjauan kembali,” kata Arifin.
Dari tiga proyek pembangunan PLTU tersebut, @ X 65 di sekitar Penajam baru masuk ke tahap penentuan lokasi pembangunan. Sementara untuk PLTU di Samboja dan Nunukan, progresnya masih nol.
Meski demikian, Arifin mengaku PLN juga tak berdiam diri saja menunggu eksekusi dari usulan 2 X 100 MW tersebut. Pasalnya, di beberapa kabupaten/kota yang mengalami krisis listrik, mulai teratasi dengan pengadaan pembangkit diesel.(sar)

Progress Pembangunan Pembangkit di Kaltim :
> Pembangkit diesel 40 MW akan beroperasi mulai Agustus hingga Desember 2007.
> Pembangkit diesel 11 MW tersebar di :
- Melak 3 MW (dijadwalkan rampung Desember 2007)
- Sengata 3 MW (sudah selesai)
- Bontang 2 MW (sudah selesai) ditambah PLTG 2 x 7 MW (selesai Agustus 2007)
- Tanah Grogot 1 MW (sudah selesai)
- Nunukan 2 MW (selesai Desember 2007)
> PLTD Batakan 40 MW (selesai Desember 2008)
> PLTU CFK 2 x 25 MW (direncanakan selesai Juni 2008)
> PLTG GT 4 (selesai Maret 2009) (sar)

PT BEI Tawarkan PLTU Mulut Tambang

August 1, 2007

Balikpapan, Tribun – Dua Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara bakal dibangun di Penajam Paser Utara (kapasitas 2 X 60 MW) dan di Kutai Barat (kapasitas 2X 7 MW). Proposal pembangunan yang diajukan oleh PT Bina Energi Investama (BEI), rencananya bakal ditindaklanjuti dengan penandatanganan kerja sama pada hari ini, antara Pemkab PPU, Kubar dan Pemprov Kaltim dengan PT BEI dan PT PLN Wilayah Kaltim. Tawaran pembangunan PLTU yang keduanya diberinama Mulut Tambang tersebut, disampaikan PT BEI dalam acara makan malam yang dihadiri jajaran pejabat Pemda setempat serta pejabat PT PLN di restoran Chiang Palace Hotel Gran Senyiur, Senin (30/7) malam.

Djoko Winarno, CEO PT BEI mengatakan, pembangunan PLTU di PPU ini bakal menelan dana hingga 187 juta dolar AS atau Rp 1,6 triliun (kurs Rp 9.000 per dolar AS). Sementara untuk pembangkit di Kabupaten Kutai Barat sebesar 19 juta dolar atau Rp 171 miliar.

“Dana tersebut bersumber dari modal sendiri sebesar 30 persen yakni 56 juta dolar atau Rp 504 miliar dan kredit pada bank sebesar 70 persen yakni 130,9 juta dolar atau Rp 1,1 triliun. Perhitungan ini untuk pembangunan pembangkit di Kabupaten PPU,” kata Djoko. Yanmg dimaksud modal sendiri, kata Djoko, adalah modal yang bersumber dari Pemkab setempat dan Pemprov Kaltim serta PT BEI.

Dengan komposisi Pemkab PPU dan Pemprov Kaltim sebesar 20 persen atau Rp 144 miliar dan PT BEI sebesar 80 persen atau Rp 351 miliar. Sementara modal pinjaman berasal dari bank lokal dengan porsi 30 persen dan bank asing sebesar 70 persen. Kerjasamanya, menurut Djoko, proyek PLTU Mulut Tambang tersebut ditawarkan dalam bentuk Build, Operate and Own (BOO) dengan ketentuan, Pemkab PPU atau Pemprov Kaltim menyetor modal awal (equity) sebesar 20 persen atau Rp 144 miliar.

“Dana tersebut dapat diperhitungkan dari penyediaan lahan dan pembuatan infrastruktur penunjang yang akan dibangun melalui APBD. Dan seluruh pengeluaran pemda masing-masing merupakan penyertaan modal melalui Perusda,” ujar Djoko. Dipilihnya kerjasama BOO, menurut Djoko, karena memiliki manfaat yang luas bagi peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat di dua kabupaten tersebut, selain memberikan profit bagi para pihak yang bekerjasama.

Dan PLTU masih dapat diandalkan karena dirawat oleh yang ahli di bidangnya. Dengan demikian usai pembangkit diharapkan bisa lebih dari 25 tahun. Sementara, asumsi yang dipergunakan, lanjut Djoko, harga jual listrik ke PLN sebesar Rp 630 per Kwh di PPU dan Rp 615 di Kabupaten Kubar, dengan kenaikan 1 persen per tahun.

Sementara harga pembelian batu bara Rp 108.000 sampai Rp 135.000 per ton.(sar).

PLTU Penajam Turun jadi 2 X 10 MW Balikpapan,

August 1, 2007

Tribun – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mulut Tambang berbahan bakar batu bara di Kutai Barat dan Penajam Paser Utara (PPU), memasuki tahap penanadatanganan Memorandum of Understanding (MoU). Namun, daya kapasitas di PPU turun jadi 2 x 10 mega watt (MW) dari 2 x 60 MW seperti yang ditawarkan oleh PT Bina Energi Investama (BEI). Prosesi penandatanganan kerjasama dilakukan Plt Gubernur Kaltim, Yurnalis Ngayoh, GM PT PLN Wilayah Kaltim, Arifin Syah, CEO PT BEI, Djoko Winarno, Bupati Kubar, Ismael Thomas, Wakil Bupati PPU, Ihwan Datu Adam serta Ketua DPRD masing-masing kabupaten di Chiang Palace Restorant Hotel Gran Senyiur Balikpapan, Selasa (31/7).

Dengan turunnya kapasitas, maka investasi hanya sekitar Rp 200 miliar dari rencananya Rp 1,6 triliun. Sementara untuk PLTU di Kubar, tetap seperti semula yakni 2 x 7 MW dengan investasi Rp 170 miliar. “Karena PLN belum siap dengan pembangunan jaringan 2 x 60 MW yang rencananya akan memasok ke Balikpapan juga.

Mereka mengatakan pembangunan jaringan tersebut baru bisa terealisasi pada 2011. Sehingga kita bangun bertahap mulai 2 x 10 MW dulu,” ungkap Djoko yang diiyakan oleh Arifin. “Kalau memang kebutuhan untuk PPU saat ini 2 x 10 MW, kita bangun segitu dulu.

Sebab kita juga sudah memiliki perencanaan pembangunan jaringan listrik di wilayah Kaltim. Bertahap dululah,” kata Arifin. Setelah ini, lanjut Djoko pihaknya akan segera membentuktim bersama untuk menyusun action plan rencana pembangunan PLTU.

Sebab dengan kapasitas yang kecil, pembangunan ditargetkan dapat rampung dalam dua tahun yakni pada 2009 mendatang. “Pendanaan telah kami siapkan. Beberapa bank lokal, seperti BNI, BII dan Bank Bukopin sudah menyatakan kesiapannya untuk mendukung pembangunan PLTU ini.

Mereka akan membentuk konsorsium. Sementara untuk pinjaman bank luar negeri tidak jadi dilakukan karena kapasitas PLTU yang dibangun kecil,” kata Djoko. (sar).