Archive for the ‘Lingkungan Hidup’ Category

KWPLH Buka kawasan enclosure Anjing dan Kucing

September 10, 2007

* Pelihara  57 ekor Kucing dan 6 Ekor Anjing
Jejeran pohon palm, pepohonan dan tanaman perdu dan semak yang tumbuh subur terasa sejuk saat melintasi  Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH) di KM 23 Balikpapan. Kawasan yang sebelumnya dikenal kawasan Agrowisata itu itu juga dilengkapi dua wahana enclosure perawatan anjing dan kucing. Selain menikmati kaasan wisata dan outbond dan bermain, Pengunjung yang datang bisa memperoleh tambahan wawasan  seluk beluk pemeliharaan hewan anjing dan kucing.
Saat ini sebanyak  59 ekor kucing dan 6 ekor anjing di lokasi enclusure baru tersebut.  Kucing dan anjing ini yang dirawat berasal dari hewan  terlantar dan kurang dipelihara di sekitar kawasan. Pemeliharaan hewan tersebut merupakan enclosure kucing dan anjing yang masih bersifat sementara dan tetap diperbaiki. Didukung dua orang relawan dari peneliti Belanda dan Amerika serta petugas perawatan, enclosure ini juga memberikan wawasan pada pengunjung khususnya mengenai cara menghindari penularan penyakit heawn anjing dan kucing ke manusia khususnya  bahaya taxoplasmosis.
Manager Pengelola enclosure anjing dan kucing Alexandra Redman  menerangkan tidak benar memelihara, mengelus dan memegang kucing menimbulkan penyakit  taxoplasmosis bagi ibu hamil yang dikhawatirkan menimbulkan anak lahir cacat. Menurutnya penyakit taxoplasmosis hanya menular dri  penularan virus dari kotoran atau terjangkit ketika masuk kandang. sedangkan mengelus dan memegang kucing tidak mempengaruhi resiko cacat pada anak. Untuk menghindari resiko penyakit itu diperlukan  vaksinasi rutin
Akibat kebiasaan tidak baik banyak orang di sekitar yang tidak mau memelihara terlalu banyak kucing atau anjing, maka ada yang membuang anak kucing ke kawasan. Akibatnya banyak kucing berkeliaran yang sering mengganggu pengunjung dengan berkumpul dan juga mengorek-ngorek sampah di tong sampah. Melihat bahwa hal tersebut tidak sedap dipandang dan tidak baik bagi kesehatan kucing tersebut, maka manajemen merawat kucing sesuai standard yang baik.
Pemeliharaan kucing dan anjing yang dilakukan dibantu oleh volunteer asing yang bekerja sukarela di kawasan. Pemeliharaan termasuk pemberian makan, pemeliharaan kesehatan, vaksinasi, dan pembuatan enklosur (arena bermain dan istirahat). Penyediaan makanan dan perawatan kesehatan kucing dan anjing memakan biaya yang tidak sedikit, malah sudah melebihi biaya makan untuk 5 ekor beruang di kawasan.
Penanggung Jawab pengelolaan KWPLH Satria Iman menerangkan salah satu cara untuk mengurangi penambahan jumlah hewan adalah dengan melakukan pengebirian. Semua kucing dan anjing di KWPLH dikebiri agar jumlahnya tidak bertambah sehingga dapat menimbulkan pembengkakan biaya. Proses kebiri ini adalah prosedur standard kontrol populasi di banyak negara yang diterapkan kepada orang yang memelihara untuk binatang kesayangan di rumah.
“Pengebirian tersebut bertujuan agar populasinya tidak bertambah banyak” kata Gabriella M Fredriksson peneliti dari Belanda.
Manager perawatan Anjing dan Kucing KWPLH Alexandra Redman menuturkan pengebirian itu dilakukan agar aning dan kucing tidak beranak untuk selamanya. Cara ini sudah diterapkan di negara kawasan negara Eropa dan Amerika. Alasan pengurangan populasinya adalah populasi beranak kucning dan anjing sulit terkendali. Dalam waktu tujuh tahun sepasang kucing melahirkan 420.000 ekor dan Kelahiran anjing mencapai 76.000 ekor.
Beberapa negara menyediakan kendaraan keliling untuk operasi kebiri di lapangan langsung.
Ada juga negara (seperti Singapore) yang membolehkan hanya beranak satu kali, kemudian wajib dikebiri, dan didaftarkan ke lembaga pemerintah. Di Indonesia dan juga Balikpapan belum ada pengaturan yang jelas soal kontrol populasi ini.
Sterilisasi kucing dan anjing juga bermanfaat untuk mengontrrol perilaku dan untuk kesehatan mereka sendiri. Sterilisasi akan mengurangi resiko kucing terkena beberapa jenis penbyakit, sedangkan untuk jantan akan mengurangi agresivitas berkelahi dan berkelana dan kencing di sembarang banyak tempat. Jika kota tidakmelakukan kontrol populasi atau sterilisasi, akan berdampak pada kesehatan masyarakat, karena dapat kita temui sekarang ini di tiap tempat sampah (TPS) selalu ada sekitar 5 ekor kucing yang mencari makan dan mnegorek serta membuat sampah tam,
Untuk KWPLH, program pemeliharaan kucing dan anjing juga dimaksudkan untuk sebagai percontohan dalam rangka progream pendidikan liongkungan hidup. Semua sistem dilaksanakan agar sesuai standard internasional, sehingga bagi masyarakat yang datang dapat belajar juga bagaimana seharusnya memelihara kucing dan anjing yang baik. Pelajaran yang dapat ditiru adalah terkait cara penanganan sehari-hari (cara pegang, angkat, tidur, bermain, pembiasaan buang kotoran), perawatan medis (kesehatan: kutu kucing, rontok bulu, kudisan, luka, sakit mata belekan), pengaturan nutrisi makanan, dan pelatihan perilaku (terutama anjing).(
Kontak Informasi KWPLH
1.    Satria Iman Pribadi (Penanggung Jawab KWPLH), Telp. 0542 7108424
2.    Gabriella Fredriksson (Peneliti Beruang Madu, Anggota Badan Pengelola Hutan Lindung Sungai Wain, Peneliti Beruang Madu, Asal kewargenegaraan Belanda)
3.    Alexandra Redman (Panggilan Ali), Volunteer Konsultan Penanggung jawab pengelolaan Beruang dan Hewan peliharaan di KWPLH, warga negara Amerika, sudah di
Balikpapan sejak 2004)
Sumber : KWPLH Balikpapan.(rid)

5 Beruang madu Sitaan dipelihara di KWPLH
Balikpapan, Tribun – Kepedulian sejumlah masyarakat Balikpapan terhadap perlindungan beruang madu  masih rendah. Buktinya dalam beberapa razia satwa langka sekian tahun terakhir disita 5 ekor beruang madu diamankan  dari kolektor binatang. Kini beruang madu sitaan itu dipelihara di  Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH).
Penanggung Jawab Pengelolaan KWPLH Satria Iman menerangkan  saat masuk ke kawasan enclosure beruang madu. Kondisi 5 beruang madu  memprihatinkan. Sebagian beruang madu sudah copot kukunya.
Ada juga yang matanya buta dan luka. Hewan yang menjadi simbol kota Balikpapan itu diperoleh dari sitaan satwa langka sejak tahun 2004.
“5 beruang madu itu kini ditempatkan di  enclosure agar mereka hidup di lingkungan alaminya.” katanya Kamis (22/3).
Kawasan Enclosure Beruang Madu itu juga dijadikan kawasan wisata pendidikan. Pengunjung yang ingin mengetahui pemeliharaan  beruang madu di habitatnya dapat melihat langsung kawasan pemeliharaan beruang madu di KM 23. Pengunjnug dapat melihat aktfiitas beruang madu dari atas boardwalk. dlam lokasi alami hutan kecil seluas 1,3 hektar itu, beruang madu dapat diamati sedang bermain di air, memanjat, membonakar kulit pohon, menggali tanah, menjelajah hutan dan aktifitas layai sebagaimana layaknya bintang itu berada di habitat alaminya  Pengelola KWPLH juga membangun enclosure anjing dan kucing yang total seluruh enclose memakan biaya Rp 1 Miliar termasuk didalamnya untuk pembagnunan gedung dan sarana prasarana.
Peneliti Beruang Madu dari Belanda yang juga pengelola enclosure beruang madu Gabriella M Fredriksson menerangkan  informasi lebih lengkap tentang berbagai jenis beruang madu di dunia saat ini sedang dibangun pada pergola-pergola informasi yang saat ini dibangun.
Manager Pengelola KWPLH lain Alexandra Redman menerangkan di areal lahan tersebut juga sedang dipersiapkan berbagai arena bermain anak, taman bunga, lamin informasi pengetahuan beruang madu dan hewan dan wisata outbond.(

Bapedalda Akan Pagar Enam Hutan Kota

September 7, 2007

* Tak ada kaitan banjir dan longsor
pemerintah kota Balikpapan dalam hal ini badan Pengeldaian Dampak LIngkungan Daerah (Bapedalda) akan memagar enam hjutan kota di blaikpapan. Tota panjang pemagaran seluas 11.290 meter. Dialokasikan anggaran Rp 914.000.
Enam hutan mota yang dipagari adalah Telagasari, Margomulyo, Gunung Sari Ulu, Sepinggan, Manggar, Karinagau.
Saat ini pemagaran dalam tahap pengesahan admininistrasi lelang. Tujuang pemagatan untuk mengamankan ruang terbuka hijau dari oknum yang tidak bertanggung jawab.
Itulah kata Kasubid Pemulihan bipedal Kota balikpapan dan kasi pemantauan dan perlindungan Erwin Hardiansyah.

Bapedalda Alokasikan Anggaran rp 319 juta

September 7, 2007

* Pemagaran Hutan Kota Telaga Sari
Pemkot Balikpapan melaui Badan pengeliaan dmapak lingkungan daerah Bapedadlda mengalokasikan RP 319 juta untuk pemagaran hutan kota Telaga sari seluas 6 hektar.

Bahaya Limbah Cair Pertambangan Batubara

August 10, 2007

Oleh Suhartono Ketua Umum Yayasan Lestari

Dampak negative dari aktifitas pertambangan batu bara bukan hanya menyebabkan terjadi kerusakan lingkungan. Melainkan, ada bahaya lain yang saat ini diduga sering disembunyikan parapengeoloa pertambangan batu bara di Indonesia. Kerusakan permanent akibat terbukanya lahan, kehilangan beragama jenis tanaman, dan sejumlah kerusakan lingkungan lain ternyata hanya bagian dari dampak negative yang terlihat mata.

PERTAMBANGAN batubara ternyata menyimpan bahaya lingkungan yang berbahaya bagi manusia. Bahaya lain dari pertambangan batu bara adlaah air buangan tambang berupa luput dan tanah hasil pencucian yang diakibatkan dari proses pencucian batubara yang lebih popular disebut Sludge

Saat ini banyak analis pertambangn yang tidak mamu mengekspose secara detail tentang bahaya air cucuian batubara. Limbah cucian batu bara yang ditampung dalam bak penampung sangat berbahaya karena mengandung logam-logam beracun yang jauh lebih berbahaya disbanding proses pemurnian pertambangan emas yang mengunakan sianida (CN).

Proses pencucian dilakukan untuk menjadi batubara lebih bersih dan murni sehingga memiliki nilai jual tinggi. Proses ini dilakukan karena pada saat dilakukan eksploitasi biasanya batubara bercampur tanah dan batuan.

Agar lbih mudah dan muerah, dibuatlah bak penampung untuk pencucian. Kolam penampung itu berisi air cucian yang bercampur lupur. LSM lingkungan JATAM menyebutnya dana beracun yang berisi miliaran gallon limbah cair batubara

Sluge mengandung bahan kimia karsinogenik yang digunakan dalam pemrosessan batubara yang logam berat berancun yang terkandung di batubara seperti arsenic, merkuri, kromium, boron, selenium dan nikel.

Dibandingkan tailing dari limbah luput pertambangan emas, unsure berancun dari logam berat yang ada limbah pertambangan batubara jauh lebih berbahaya. Sayangnya sampai sekarang tidak ada publikasi atau informasi dari perusahan pertambangan terhadap bahaya sluge kepada masyarakat di sekitar pertambangan.

Unsure beranu menyebabkan penyakit kulit, gangguan pencernaan, paru dan penyakit kanker otak. Air sungai tempat buangan limbah digunakan masyarkat secara terus menerus. Gejala penyakit itu biasa akan tampka setelah bahan beracun terakumulasi dalam tubuh manusia.

 

Beberapa perusahaan tambang di Kalimantan Timur ditengarai tridak melakukan pengelolaan water treatmen terhadap limbah buangan tambang dan juga tanpa penggunaan bahan penjernih Aluminum Clorida, Tawar dan kapur. Akibatnya limbang buann tambang menyebabkan sungai sarana pembuagan limbah cair berwarna keruh.

Alangkah bijaknya jika perusahaan pertambangan batubara tetap memperhatikankualitas limbah tambangnyha dengan membuat water treatment dan pengunaan bahan penjernih air hingga limbah buangan aman bagi masyarakat dan lingkungan.

*Tarif dari 100 USD Hingga 200 USD per Malam

July 29, 2007

Melihat Samboja Lodge BOS

BILA kita mengunjungi kawasan konservasi satwa Borneo Orangutan Survival (BOS), pasti kita akan menemukan sebuah penginapan yang sangat rindang dan asri. Lokasi Samboja Lodge BOS masuk kira-kira 7 km dari Jl Balikpapan-Handil Km 44 Kelurahan Margomulyo Samboja, Kutai Kartanegara. Di area konservasi yang luasnya sekitar 1850 ha, berdiri bangunan tinggi yang di dalamnya memiliki 26 ruangan.
Karena lokasinya berada di area konservasi, pengelola BOS sengaja mendesian bangunan ini sangat natural, ditambah lagi ornamen-ornamen dari kayu dan taman yang sangat sejuk dipandang. Bagian atap bangunan berbentuk huruf T ini juga dilapisi ijuk yang membuat suasana semakin dingin. Belum lagi suara percikan air mancur, yang berada di halam depan pintu masuk menuju lodge ini, seolah-olah membuat kita berada di daerah aliran sungai kecil. Suasana alami juga terlihat jelas di bagian receptionist Samboja Lodge. Selain meja dan barang perabotannya terbuat dari kayu, bagian tembok dua area receptionist ini disusun dari batu-batuan, menyerupai dinding bangunan kuno. Seleuruh ruangan bangunan penginapan ini menghadap ke dua arah, yakni hutan rimbun hasil rehabilitasi BOS sejak berdiri 2000 lalu.
Berbagai perabotan di dalamnya pun juga terbuat dari sampah kayu, seperti kursi dan meja makan di resort, serta hiasan-hiasan didinding lainnya. Dari 26 ruangan, sebanyak 22 ruangan standart dengan tarif permalam 100 USD. Dua rungan lain yang berada di paling ujung bangunan, yakni Queen Sweet Room bertarif 150 USD. Sedangkan dua rungan lagi yang berada di menara paling atas bangunan itu, yakni Tower Sweet Room tarifnya 200 USD.
Menurut Manager Samboja Lodge BOS Rafaella Commitante, penginapan itu sengaja dibangun untuk memeprsiapkan BOS apabila suatu saat nanti yayasan ini harus berdiri sendiri, tanpa bantuan donatur dari pihak asing.
Selain untuk umum, Samboja Lodge juga biasa ditempati para ekspatriat atau sukarelawan asing yang melakukan penelitian di tempat itu. “Setengah dari pemasukan lodge ini digunakan untuk opersional penginapan ini, dan setengahnya lagi untuk program BOS,” kata Rafaella. Menurut wanita asal Italia ini, Samboja Lodge BOS sudah berdiri sejak awal Januari 2007 lalu, namun pendiriannya saat ini tinggal menunggu ijin dari pemerintanh Kukar.
Seorang wanita asal Amerika Serikat Brooke Duling, yang sedang melakukan penelitian di tempat itu mengatakan, bahwa penginapan itu merupakan tempat hunian yang sangat menarik dan alami. “Pemandangannya cukup menarik. Ini baru pertama kali saya menemukan penginapan di tengah hutan seperti ini,” kata Brooke.(joi)
Daftar Ruang :
-Tower Sweet Room    200 USD
-Queen Sweet Room     150 USD
-Standart Room     100 USD(joi)

Orangutan pun Cerdas Seperti Manusia

July 29, 2007

TERNYATA tidak hanya manusia yang mempunyai akal, orangutan pun juga memiliki pemikiran yang cerdik layaknya manusia. Buktinya, orangutan yang direhabilitasi di Borneo Orangutan Survival (BOS) Samboja, Kukar. Di kawasan BOS yang luasnya, sekitar 1850 ha ini terdapat enam pulau buatan. Pulau-pulau ini digunakan sebagai tempat merehabilitasi orangutan yang sakit hepatitis, dan tidak bisa dilepas liarkan atau dicampur dengan kawan-kawannya.

Namun di dalam area pulau buatan yang dikelilingi sungai itu, orangutan ‘penyakitan’ ini nampaknya cukup cerdas sekali. Mereka seringkali keluar dari area itu, baik dengan cara menyeberangi air hingga atau menggunakan batang pohon sebagai jembatan. Sebatang pohon yang telah mengering misalnya. Pohon ini mereka ayun-ayunkan hingga roboh, lalu digunakan sebagai hembatan untuk menyeberangi sungai, yang lebarnya kira-kira 2-3 meter. Situasi seperti itu tentu saja membuat, operator lapangan BOS kocar-kacir. Karena mereka tidak menyangka, bagaimana orangutan bisa keluar dari tempat tinggalnya.

Cara lain yang dipakai orangutan untuk keluar dari pulau itu adalah dengan mengukur kedalaman sungai. Bila mereka menemukan dahan pohon yang jatuh, orangutan biasanya akan menggunakan kayu itu untuk mengukur kedalaman sungai. Dan bila kedalaman sungai itu tidak melebihi lehernya, para orangutan itu nekat ‘nyebur’ dan keluar dari pulau. “Jadi petugas kita setiap hari berpatroli mengontrol area itu, untuk menyingkirkan dahan-dahan pohon yang jatuh, agar tidak dipakai orangutan untuk yang keluar dari pulau itu,” kata Manager Project of Wanariset Paramita Ananda.

Untuk memberikan tempat yang nyaman bagi orangutan dan anak-anaknya, pengelola BOS sengaja melengkapi pulau-pulau itu dengan berbagai mainan, seperti ayunan, tali yang menghubungkan satu tiang dengan tiang lain dan juga tempat berteduh. Saat ini, jumlah orangutan yang direhabilitasi di BOS sekitar 218 ekor, yang umurnya bervariasi dari  1 bulan hingga 20 tahun.

Ada juga cerita menarik lain mengenai orangutan di tempat itu. Gayatri misalnya. Orangutan yang baru berusia 1 bulan ini terpaksa harus tinggal bersama-sama dengan baby sitter. Gayatri ditinggalkan Golam, ibunya, yang usianya juga masih relatif muda, yakni sekitar 7 tahun. Menurut Paramita, Golam tidak mau menyusui Gayatri lantaran ‘ia’ merasa risih dan ‘kagok’, karena usianya yang masih relatif muda. Akibat perlakuan itu, baby sitter yang bekerja selama 24 jam mengurusi bayi-bayi orangutan, harus menyusuinya. Susu yang disuapkannya pun juga sama dengan bayi manusia, yaitu susu SGM 1 dan 3.

Selain enam pulau yang digunakan untuk menampung orangutan panyakitan. Di kawasan BOS juga terdapat sekolah hutan. Sekolah hutan yang berada jauh dari akses manusia ini hanya diperuntukkan bagi anak-anak orangutan yang usianya 2 hingga 5 tahun. Sayangnya, area ini tidak bisa dikunjungi, karena merupakan daerah terlarang untuk manusia, kecuali tenaga teknisi.(jo

Menjadi Surga Para Satwa

July 29, 2007

*Melihat Rehabilitasi Lahan

“Bila menjelang sore atau malam, kita sering jumpai kancil, kijang, babi hutan, macan dahan, bahkan ular piton yang besarnya seukuran paha manusia. Satwa-satwa itu saat ini menjadikan area ini tempat tinggal yang nyaman,”kata Nanang, karyawan Borneo Orangutan Survival (BOS), yang biasa lalu lalang di kawasan konservasi yang terletak di Km 44 Samboja, Kukar.

SUDAH hampir tujuh tahun, BOS beroperasi dan merehabilitasi lahannya di Kelurahan Margomulyo, Samboja, Kutai Kartanegara. Mungkin bisa dibayangkan, bagaimana kondisi area itu sebelumnya. Seperti halnya bukit-bukit yang berada daerah Batakan, Manggar dan Gunung Tractor Balikpapan, lokasi BOS ini dulunya hanya berupa alang-alang terbuka, yang didalamnya jarang sekali dijumpai binatang.
Maklum saja, 50 tahun silam, area terbuka ini merupakan tempat pembalakan kayu terbesar pertama di Indonesia. Kemudian, para penjarah itu meninggalkan tempat ini begitu saja, tanpa merehabilitasinya kembali.

“Sebelumnya ‘nol’, jangankan kehidupan, serangga pun gak ada, jadi panas telinga,” kata President Director BOS, Willie Smits. Kontan saja, kondisi yang demikian itu membuat kancil, kijang, babi hutan dan ‘kawan-kawannya’ ogah mendiami tempat seluas 1850 ha itu. Belum lagi kepunahan yang saat itu mereka (satwa ‘red) derita, akibat tidak adanya sarana tinggal yang nyaman dan minimnya sumber makanan.

Namun kini suasananya sudah berbeda. Beberapa jenis pohon khas Kalimantan sudah tumbuh dan berkembang di dataran Kukar ini. Lahan kritis yang dulunya berupa alang-alang, kini sudah beruba berubah seolah-olah tertutub oleh rerimbunan. Sudah lebih dari 732 jenis tanaman dan pohon, termasuk pohon fast growing (tanaman cepat tumbuh) berkembang di area ini. Akibat rehabilitasi massive ini, beberapa satwa liar juga sudah mulai kembali.
Seperti yang dikatakan Nanang di atas, beragam satwa seperti king kobra, piton, biawak, bekantan, lutung merah, beruk dan lebih dari 98 spesies burung sudah hadir di tempat ini. “Bahkan generasi elang juga sudah terlahir di sini,” ujar Smits.

Pemulihan lahan kritis ini dilakukan secara bertahap. “Awalnya, tahun 2000 lalu, luas lahan ini cuma 60 ha, kemudian diperluas 90 ha, 180 ha dan akhirnya sekarang 1850 ha,” kata Ishak Yasir. Untuk merubah iklim mikro di daerah itu, BOS melakukan penanaman jenis-jenis buah dan fast growing.     Sehingga, lanjut Ishak, dengan adanya perubahan itu diharapkan satwa-satwa yan dulunya mendiami kawasan itu akan kembali.
Selain menjadi surga bagi satwa liar, dampak lain dari rehabilitasi itu adalah memperbaiki fungsi hidrologis di kawasan itu. Sehingga kandungan air dalam tanah di kawasan itu kini sudah mencapai 50 juta meter kubik. Dan jumlah itu bisa menjadi lebih besar lagi, jika nantinya rehabilitasi sudah benar-benar terpenuhi 100 persen.
“Tiga tahun terakhir ini banjir di Margomulyo sudah mulai berkurang. Padahal dulu di kawasan ini sering  banjir bila hujan lebat,” kata Ishak.
Namun ada satu hal yang disayangkan. Jalan yang menjadi askes utama menuju lokasi BOS, yang juga tempat penelitian ini sangat memprihatinkan. Pihak BOS sendiri sudah sering meminta bantuan ke pemerintah Kukar, namun hingga kini belum terealisasi. Kondisi ini menyulitkan para pelajar, termasuk instansi yang akan berkunjung ke lokasi yang jaraknya 7 Km dari ruas jalan Balikpapan-Handil.(joi)

5000 Stiker Disebar di Hari Lingkungan Hidup

July 29, 2007

Balikpapan, Tribun -Sebanyak 5000 lembar stiker dibagikan secara cuma-cuma oleh aktivis peduli lingkungan, Selasa (5/6). Penyebaran stiker bertuliskan pesan moral mengenai himbauan untuk menjaga lingkugan itu dibagi menajdi tiga tempat, yakni Jl Jend Sudirman atau pertigaan Balikpapan Plaza, Depan Plaza Rapak dan persimpangan MT Haryono atau Dam. Tim yang membagi-bagikan stiker lingkungan hidup itu terdiri dari LSM pecinta lingkungan, Mapala, pemuda Slanker dan Bapedalda Balikpapan. Pesan yang tertera dalam stiker itu adalah Stop pengrusakan hutan, pencemaran tanah, air dan udara, serta waspadalah terhadap perubahan iklim.

Dalam pembagian stiker kepada para pengguna jalan itu nampak beberapa orang mengenakan kostum binatang. Seperti yang terlihat di depan Plaza Balikpapan, seorang aktivis lingkungan mengenakan kostum ayam. Kemudian di persimpangan yang menghubungkan MT Haryono dan Jl Jend Sudirman nampak aktivis mengenakan kostum kera. Sehingga aksi tersebut sempat menjadi perhatian warga yang melintas di kawasab itu. Menurut Kasubid Pemulihan Bapedalda Edi Winarno, kegiatan itu merupakan bagian dari memperingati hari lingkungan hidup sedunia yang jatuh pada hari Selasa (5/6) kemarin.

Rangkaian kegiatan lainnya yang akan digelar hingga bulan Juli mendatang adalah sepeda hias, aksi bersih pantai, tanam pohon, pelapasan burung, lomba lintas alam nasional dan masih banyak lagi acara menarik lainnya.(joi)

Patok Perbatasan Area Konservasi Dirusak

July 29, 2007

*Diduga untuk Jalan Pertambangan

Balikpapan, Tribun -Puluhan patok yang membatasi area konservasi Hutan Lindung Sungai Wain (HSLW) rusak berat. Kerusakan patok dan pagar pembatas area konservasi itu disebabkan oleh aktivitas pembukaan dan pelebaran jalan, di batas wilayah antara Balikpapan dan Kutai Kartanegara. Jalan sekat bakar yang biasa digunakan patroli petugas Pengamanan Hutan (Pamhut) HLSW, kini lebarnya sudah berubah menjadi lima hingga delapan meter. Tidak hanya itu, beberapa patok pembatas  kawasan konservasi yakni dari patok 66 hingga patok 29 rusak, dan sebagian teruruk tanah akibat ulah alat berat buldoser.

Aktivitas yang diduga untuk jalan pertambangan itu juga merusak beberapa pagar kawat berduri yang membatasi kawasan HLSW, yakni kira-kira masuk 15 km dari ruas jalan utama JL Sukarno-Hatta Km 25. Dari hasil pantauan Tribun di lapangan Sabtu (28/7), ulah buldoser yang membuka kawasan itu semakin berani, karena ditemukan beberapa patok tapal batas yang membatasi wilayah Balikpapan-Kukar rusak dan tertimbun tanah. “Tapi sayang, setiap kita berpatroli kesini, pelakunya sudah tidak ada. Kalaupun tertangkap basah, kita akan proses pelakunya ke jalur hukum,” ujar Kepala Unit Pengamana HLSW Agusdin, yang saat itu bersama petugas TNI/Polri meluncur menuju kawasan berlumpur itu.

Nomor patok tapal batas wilayah yang rusak dan tidak ditemukan adalah 1602/048 dan 1602/047. Temuan itu bermula pada tanggal 10 Juli 2007 lalu, ketika petugas Pamhut HLSW berpatroli di kawasan tersebut. Saat itu petugas hanya mendapati jalan sekat bakar yang terbuka, panjangnya  sekitar 800 meter. Selanjutnya pada 15 Juli 2007, petugas mendapat laporan warga sekitar bahwa terdapat aktivitas pelabaran jalan yang dilakukan oleh alat-alat berat.

Namun petugas kesulitan mencari pelaku, karena kendaraan yang digunakan tidak mampu menjangkau area itu lebih dalam. Kondisi itu diperparah lagi dengan cuaca yang menyebabkan jalanan menjadi  berlumpur dan digenagi air seperti sungai. Karena tidak mau kecolongan, petugas berpatroli lagi pada tanggal 18 Juli. Namun kala itu petugas juga tidak menemukan pelaku, karena kendaraan yang digunakan mogok ditengah jalan.

Pada Kamis (26/7) lalu, petugas kembali berpatroli dan mendapati jalan sekat bakar itu sudah terbuka hingga merusak pagar pembatas kawasan konservasi, serta merusak patok perbatsan. Hingga kini petugas terus mencari siapa pelaku atau orang yang melakukan aktivitas tersebut. Karena selain berdampak pada semakin maraknya penjarahan hutan, pelebaran jalan di kawasan konservasi itu juga bisa memicu meluasnya perburuan dan pemukiman, yang dapat merusak HLSW.

Untuk mengamankan pagar dan patok yang rusak itu, sementara ini petugas memberi tanda police line di kawasan tersebut.(joi)

Kronologi kejadian :
-10/7    Petugas Pengamanan Hutan (Pamhut) HLSW berpatroli di area konservasi km 25, menemukan     jalan yang sedianya hanya berukuran satu kendaraan kecil dibuka lebar dengan alat berat.     Namun panjang pembukaan jalan baru ini hanya 800 meter, dan tidak menyentuh pagar     pembatas.
-15/7    Ada laporan warga Kelurahan Karang Joang adanya pelebaran jalan di lokasi batas wilayah     konservasi itu semakin meluas. Petugas patroli tidak bisa menemukan pelaku pelebaran jalan,     karena motor yang dikendarai petugas tidak bisa menempuh wilayah itu.
-18/7    Petugas Pamhut HLSW kembali berpatroli, namun kendaraan yang digunakan tidak mampu     menempuh batas wilayah kosnervasi yang dilebarkan.
-26/7    Petugas kembali berpatroli dan menemukan pembukaan dan pelebaran jalan, yang merusak     patok dan pagar pembatas wilayah konservasi HLSW. Tetapi tidak mendapati pelaku     peleberan dan perusakan batas wilayah.
-28/7    Bersama rekan wartawan media cetak, petugas Pamhut HLSW kembali berpatroli, dan     mendapati patok yang membatasi kota Balikpapan dan Kabupaten Kukar rusak dan         hilang.(joi)

Akibat pelabaran jalan sekat api yang membatasi wilayah konservasi itu :
-Pelaku ilegal logging dapat semakin mudah memasuki wilayah itu, karena sudah bisa ditempuh kendaraan besar.
-Aktivitas pemburuan semakin meluas.
-Meluasnya pemukiman di area konservasi sehingga mengakibatkan kerusakan di area HLSW.(joi)