Archive for the ‘Profil’ Category

Profil Pegawai tertua di RRI

September 16, 2007

Andi Nurdin Mengabdi di RRI sejak 1954

* Gaji pertama 50 sen per bulan.

Hari Bhakti Radio ke-62 diperingat setiap 11 september berlangsung sederhana di Studio 3 RRI Samarinda. 100 karyawan RRI beserta undangan memenuhi ruangan. Ani Nurdin mendapat kehormatan menerima potongan tumpang pertama

Profil Pegawai tertua di RRI

September 14, 2007

Andi Nurdin Mengabdi di RRI sejak 1954

* Gaji pertama 50 sen per bulan.

Hari Bhakti Radio ke-62 diperingat setiap 11 september berlangsung sederhana di Studio 3 RRI Samarinda. 100 karyawan RRI beserta undangan memenuhi ruangan. Ani Nurdin mendapat kehormatan menerima potongan tumpang pertama

Pernah Diterjang Badai Ekor Taipon

July 29, 2007

*Danlanal Baru Balikpapan Letkol Laut (P) Ahmadi Heri Purwono

SOSOK Danlanal Balikpapan Letkol Laut (P) Ahmadi Heri Purwono dikenal cukup ramah di lingkungan maritim Balikpapan. Pengganti Kolonel Laut (P) Suselo, baru sekitar satu bulan menjabat  Komandan Lanal Balikpapan. Sebagai seorang pelaut yang pernah membawahi berbagai jenis kapal perang, ternyata Heri memiliki segudang pengalaman menarik ketika berda di lauatan. Salah satu diantara pengalaman itu adalah ketika ia dan ke-80 anak buahnya diterjang ekor badai taipon, saat perjalanan dari Manado menuju Surabaya.

Peristiwa yang terjadi pada tahun 1999 itu kontan membuat seisi  kapal dan awaknya kocar-kacir. KRI Soputan yang ditumpanginya saat itu baru menjalankan tugas di Ambon. Namun pada saat singgah di Manado dan akan melanjutkan perjalanan ke Surabaya, kapalnya diterjang ekor badai taipon, yang saat itu menuju Philipina. “Saya tidak bisa apa-apa karena seluruh anak buah saya sudah pada teler, dan muntah-muntah,” kata Heri sambil mengenang. Pada peristiwa itu Heri hanya bisa pasrah dan berdoa meminta perlindungan sang pencipta.

“Saat itu saya berada di dek belakang kapal, berdzikir dab berdoa, ya Alllah bila saya punya salah, saya mohon hukumlah saya tapi jangan anak buah saya,” ujar pria kelahiran Semarang Jawa Tengah ini. Sepenggal cerita itulah rupanya tidak bisa dia dilupakan hingga kini. Namun kini Heri memiliki tugas baru, yakni menjaga perairan Balikpapan dan sekitarnya, dengan bermarkas tidak di dek kapal lagi yang selalu bergoyang terkena ombak, melainkan di Lanal Balikpapan.

Sebagai pendatang baru dalam kancah Muspida Balikpapan, sosok Heri tidak seserem satuannya.   Namun sebaliknya, lulusan Akademi AL tahun 1988 ini ternyata dikenal cukup familier dan ramah. Keramahannya itu ditunjukkan saat ia menggelar minum kopi bersama instansi maritim di kompleks Lanal Balikpapan, Kamis (28/6). Dalam kesempatan itu Heri mengajak seluruh undangan untuk latihan menembak bersama di lapangan Lanal. Sehingga even itu menjadi saat yang paling mengesankan bagi para undangan, karena jarang sekali dilakukan di institusi militer lain.

Sebagai komandan yang bertugas memberi dukungan kapal-kapal perang, yang beroperasi di Ambalat dan Alur Laut Kepulauan Indonesia (Alki) II, Heri dan jajarannya akan berupaya proaktif dalam menegakkan hukum di laut wilayah Balikpapan, yang luasnya dari Tanjung Aru, Paser hingga Tanjung Santan dan Selat Makassar. “Kemampuan kapal-kapal kami di Lanal ini hanya sampai wilayah itu, tetapi sebenarnya tanggung jawab kami seluruh perairan Indonesia,” kata alumni Akademi AL tahun 1988 ini.

Untuk mengamankan peraiaran Balikpapan, Heri akan selalu bekerjasama dengan seluruh instansi maritim untuk melakukan patroli bersama. Ia juga berharap adanya dukungan informasi dari semua pihak, mengenai segala bentuk kegiatan ilegal di laut. “Kalau ada informasi kegiatan ilegal di laut, silahkan hubungi kami,” ujarnya. Tugas lain yang diemban Lanal Balikpapan adalah membina potensi kekuatan nasional maritim, dan bersinergi dengan masyarakat nelayan, terutama menyangkut keluhan  para nelayan di laut. “Kita sosialisasi kepada masyarakat nelayan tentang cara menangkap ikan yang baik dan benar,” ujarnya.(joi)

Nama Lengkap : Ahmadi Heri Purwono
Pangkat     : Letkol Laut (P)
Jabatan     : Danlanal Balikpapan
TTL        : Semarang, 28 Oktober 1965
Nama Istri     : Dwi Astuti Rahayu
Anak         : -Rendy (13)
-Shandy (9)
Pendidikan terakhir    : Sesko AL
Pengalaman Penugasan :-Komandan KRI Soputan
-Komandan KRI Sura
-Komandan KRI Singa
-Komandan KRI Badik
-Pabanrem SOPS Armatim
-Komandan Lanal Balikpapan(joi)

Raisa Catering, Hobi Yang Keterusan (1)

July 15, 2007

> Bermula Dari Rantangan ke Rumah-Rumah

JASA penyedia makanan siap saji alias catering saat ini, tak hanya menjadi kebutuhan para pekerja khususnya yang masih single, namun banyak pasangan baru atau pasangan bekerja ternyata menggantungkan isi perut mereka dari jasa para pemasak ulung.  Berbagai alasanpun mengemuka. “Lebih simple tinggal menyiapkan alat makan,” ungkap seorang pelanggan jasa catering. Sementara lainnya beralasan lebih hemat, tidak perlu berbelanja bermacam bahan makanan yang kalau dihitung-hitung bisa lebih mahal.
Selain itu, untuk acara-acara besar dan penting yang identik dengan perjamuan, jasa catering cukup memegang peranan penting di dalamnya. Raisa Catering & Service, milik Iing T Abram adalah salah satunya di Balikpapan. Terbilang baru, namun dalam berbagai acara, nama Raisa cukup dikenal. Mulai dari suguhan kue-kue, makan siang hingga acara pernikahan. Kartu nama disertai brosur selalu terpajang rapi dalam setiap penyajian. “Ini salah satu kiat promosi  yang dilakukan agar lebih banyak orang yang mengetahui usahasaya,” ungkap Iing ketika ditemui Tribun dalam sebuah kesempatan.
Ibu tiga anak inipun menuturkan, bisnis catering dilakoninya sejak tahun 2003 lalu. Awalnya sekedar hobi memasak yang disuguhkan ketika arisan, ulang tahun atau pertemuan antar keluarga. Ternyata satu per satu tertarik untuk berlangganan. Jadilah Iing membuka paket rantangan.
“Kali pertama, pelanggan saya ada 25 orang saja. Semuanya saya masak sendiri. Satu paket rantangan sekali makan, saya jual Rp 15.000. Baru empat bulan berjalan, saya mendapat tawaran untuk memasak diacara pertemuan sebuah perusahaan. Menarik dan merasa tertantang, tawaran tersebut langsung saya ambil,” tutur Iing.
Dari sana, ia mulai berpikir untuk serius menekuni hobinya. Alhasil,  jasa catering yang berbadan hukum dengan nama Raisa, berdiri pada 2004. “Tawaran mulai banyak. Saya juga harus merekrut tenaga kerja sekaligus melengkapi berbagai alat operasional usaha, terutama kendaraan angkutan. Sehingga badan hukum sangat diperlukan,” tambahnya.
Sekarang, sedikitnya 20 pekerja bergantung dari hobi Iing yang keterusan ini. Bisnis rantangannyapun berkembang pesat. Jumlahnya antara 400 hingga 500 orang  dengan harga sekitar Rp 25.000 per paket. Sementara order untuk menyajikan makanan matang di berbagai kegiatan sepertinya tak pernah putus. Bahkan beberapa perusahaan dan instansi secara khusus selalu menggunakan jasa cateringnya untuk perjamuan, seperti Bank Indonesia, PLN serta Pemkot Balikpapan.Belum lagi orderan dari beberapa acara hajatan serta pernikahan yang menggunakan jasa cateringnya.(sar/bersambung)

Raisa Catering, Hobi Yang Keterusan  (2)
> Promosi Jadi Kiat Utama

SUKSES mengembangkan bisnis home industri di bidang makanan tak membuat Iing terlena. Salah satu kiat jitu yang digunakannya untuk terus meningkatkan usahanya adalah dengan giat berpromosi, kapan saja, dimana saja dan pada siapa saja. Iapun aktif ke beberapa perusahaan maupun instansi pemerintahan untuk menawarkan jasa cateringnya melalui presentasi maupun memasukkan company profil.
“Dengan menjadi seperti sekarang, saya tidak bisa duduk diam. Kompetitor di bidang ini juga banyak. Sementara ada puluhan pekerja yang menjadi tanggung jawab saya. Berbagai peluang harus saya raih. Salah satu cara adalah berpromosi. Membuat kartu nama dan brosur dalam jumlah banyak serta memajangnya disetiap acara maupun kegiatan yang menggunakan jasa catering Raisa,” ungkapnya.
Untuk kalangan tertentu, Iing-pun tak segan-segan memberikan harga promosi  bagi jasa cateringnya. Tarif termurah yang ditawarkan biasanya Rp 20.000 per porsi. Namun Iing terkadang harus bersikap fleksible dengan ketersediaan dana kliennya. Baru kemudian ia menawarkan menu yang akan disajikan.
“Saya menganut paham, pelanggan saya puas, saya juga akan puas. Soal untung, dalam berusaha pasti ada. Tapi kadang kita juga tidak bisa memaksakan orang untuk membeli dengan harga yang kita tawarkan. Pasti ada negoisasi sebelum mencapai sepakat. Itu yang saya utamakan,” terangnya.
Kiat lain yang dilakukannya adalah dengan membuat variasi dalam setiap penampilan cateringnya. Costumernya tak hanya mendapatkan makanan saja, tetapi juga tatanan yang menarik serta hiasan pendukung lainnya sesuai nuansa yang diinginkan. Bisa berupa taman mini, pohon-pohonan hingga ice carving.
Tapi jangan tanya soal pendapatan yang diperolehnya. Iing termasuk orang yang enggan buka- bukaan soal keuangan dan keuntungan yang diperolehnya. Bayangkan saja, dari usaha rantangan, ia telah memperoleh penghasilan tetap. Belum lagi dari order catering besar dari klien tetapnya. “Cukuplah untuk menggaji karyawan juga ada sedikit buat saya. Bisnis ini berangkat dari hobi, bukan sekedar mencari uang tetapi kepuasan. Jadi tidak ada beban untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya,” ungkap wanita berdarah Padang ini ramah.(sarita/bersambung)

Raisa Catering, Hobi Yang Keterusan (3-Habis)
> Melebarkan Sayap ke Pertambangan

SAAT ini, jiwa bisnis Iing terus bergejolak. Dukungan suami menjadi pendorong dirinya untuk terus mengembangkan bakat dan potensi. Tak cukup di Balikpapan saja, bisnisnyapun mulai merambah ke beberapa daerah seperti Penajam dan Samarinda. Tapi masih ada keinginannya yang belum tercapai. Menangani catering di lokasi pertambangan.
“Saya ingin bisa mensupply makanan ke lokasi tambang seperti camp, rig atau perkantorannya. Tidak perusahaan tambang yang terlalu besar, yang biasa-biasa saja. Sudah ada beberapa perusahaan tambang Batubara di daerah Kutai Kertanegara yang saya jajaki. Namun belum ada kepastian,” ungkapnya.
Dalam pemenuhan bahan pangan Iing sudah memiliki jaringan yang luas. Mulai dari pemasok sayur mayur, daging, telur hingga ayam. Setiap hari, para pemasok itu datang mengantar pesanan.
Kepiawaiannya dalam bisnis makanan memang tak perlu diragukan lagi. Iapun terbukti mahir dalam mengikat hati pelanggannya dengan beragam inovasi penyajian makanan. Tak hanya makan Indonesia dan Cina yang umum ditemukan di restoran,  makanan ala Eropa dengan standar hotel berbintang juga bisa diperoleh di cateringnya.
“Beberapa pekerja khususnya koki, selalu saya ikutkan pelatihan maupun kursus. Terkadang juga saya ajak studi banding ke beberapa restoran di hotel-hotel berbintang, agar menu dan vasiasi makanan yang mereka sajikan terus berkembang juga,” terangnya.
Meski demikian, Iing mengaku belum berpikir untuk merambah usaha even organizer yang biasanya menempel pada jasa penyedia makanan. Maklum, untuk acara pernikahan, tak jarang beberapa klien meminta Iing juga menyiapkan dekorasi, penata rias, foto hingga paket baju pernikahan.
“Saya belum berpikir ke arah sana. Fokus saya dibidang catering saja. Namun, kalau mereka meminta, saya juga punya mitra kerja untuk hal-hal lain yang dibutuhkan. Tapi saya hanya sebagai penghubung saja. Tidak mengambil keuntungan dari sana. Kalau EO, saya harus total dan mengambil keuntungan juga dari jaringan saya itu,” tambahnya.(sarita)
Rumah Kopi, Rumahnya Pecinta Kopi (1)
> Bermodal Iseng dan Kesamaan Hobby

MEMBANGUN suatu bisnis baru bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi untuk mewujudkannya harus merogoh kocek yang cukup lumayan besar. Namun, lima sekawan yang bisa dibilang masih awam di dunia bisnis, nekat mengambil tantangan dengan mendirikan usaha waralaba yang berbeda dengan yang ada pada umumnya.
Rumah Kopi. Dari namanya, tentu bisa ditebak menu utama yang ditawarkan tentu berasal atau berbahan baku kopi. Bahkan aroma khas kopi-pun sudah mulai tercium kala kaki mulai memasuki teras depan. Letaknya di kawasan Gunung Pasir Balikpapan, cukup terbilang strategis. Karena tepat di jantung Kota Balikpapan. Sekilas tampak seperti rumah biasa. Beberapa kursi kayu tertata rapi di halaman, berpadu dengan temaramnya sinar lilin yang sengaja diletakkan di tiap meja.  Ditambah sejuknya pepohonan yang memadati halaman sekitar, menjadikan Rumah Kopi sebagai tempat nongkrong yang representatif terutama bagi kalangan muda. “Sesuai namanya, menu utama yang kami sajikan tentu saja kopi. Mulai dari espresso, capuccino hingga beberapa kreasi minuman lainnya yang berbahan kopi,” terang Manager sekaligus salah satu pemilik Rumah Kopi, Kaharuddin.
Ia menuturkan, ide mendirikan usaha tersebut bermula dari sebuah obrolan iseng antar teman semasa kuliah dulu.  Dan kebetulan mereka juga memiliki minuman favorit yang sama, yakni kopi. Namun untuk menemukan tempat ngopi murah meriah sekaligus tempat ngobrol ngalur ngidul yang nyaman sulit ditemukan di Balikpapan. Akhirnya, tercetuslah ide untuk mendirikan sebuah tempat minum kopi yang santai sekaligus bisa menjadi tempat berdiskusi. “Mulanya sih cuma ingin punya tempat ngopi yang nyaman. Tapi lama kelamaan, idenya berkembang bagaimana kalau tak sekedar tempat ngopi saja, tetapi juga menjadi tempat diskusi dan tempat tukar menukar informasi. Terutama bagi kalangan pelajar dan mahasiswa. Kebetulan lokasi yang dipilih untuk rumah kopi juga sangat berdekatan dengan beberapa tempat pendidikan seperti SMU, SMP dan tempat perkuliahan,” ungkapnya.
Merekapun akhirnya saling merogoh kocek masing-masing untuk mulai mewujudkan mimpinya. Sedikit demi sedikit uang tabunganpun terpaksa terkuras.  Maklum, untuk mendirikan bisnis tersebut ternyata membutuhkan dana sekitar Rp 100 juta. Termasuk biaya kontrak rumah, furniture hingga alat penggiling kopi.   Alhasil, pada 24 November 2005, Rumah Kopi dengan menu utama berbagai kreasi minuman berbahan kopi dibuka. “Tak ada target yang akan dicapai saat itu. Kami hanya ingin punya tempat ngumpul bersama teman-teman sambil ngopi bareng. Kalaupun ternyata harus gulung tikar, ya sudah resiko. Ibaratnya asal bisa jalan saja kami sudah senang. Karena ini akan jadi pengalaman tersendiri buat kami semua,” tambahnya. (sarita/bersambung)

Rumah Kopi, Rumahnya Pecinta Kopi (2)
Bidik Komunitas Sebagai Konsumen

PEMINUM kopi tentu sangat banyak. Namun yang memiliki kesenangan untuk ngopi di luar rumah bersama teman-teman atau relasi tentu hanya sebagian saja. Rumah Kopi dalam kiprahnya di dunia bisnis waralaba lebih pada tempat minum kopi saja tanpa menawarkan sajian makanan berat ataupun makanan ringan yang beraneka ragam. Cukup pisang goreng keju dan kentang goreng saja sebagai teman minum kopi. Simple dan praktis baik dalam pengolahan maupun penyajian.
Begitu juga kalangan yang dibidik Rumah Kopi sebagai konsumennya. Mereka lebih membidik kalangan komunitas dan coffee lover sebagai konsumennya. Bahkan saat ini tempat tersebut sering kedatangan sekelompok pelajar maupun mahasiswa dari salah satu lembaga kursus Bahasa Inggris terkenal di Balikpapan untuk belajar kelompok atau berdiskusi.  “Kebetulan kami ada kerja sama untuk menggunakan Rumah Kopi sebagai tempat pertemuan. Sehingga secara berkala mereka datang untuk berdiskusi ataupun menggelar kelompok belajar,” ujar Kaharuddin Manager Rumah Kopi.
Selain itu, kelompok pecinta musik jazz juga sering menjadikan Rumah Kopi sebagai tempat kumpul bareng sambil mendengarkan alunan musik jazz. “Kopi dan musik jazz merupakan pasangan yang pas,” tambahnya.
Diakui Kahar, kembali pada tujuan pendirinyannya yakni bagaimana membuat Rumah Kopi yang di dalamnya memuat berbagai komunitas, tentu saja komunitaspun menjadi sasaran bidik mereka. Apalagi komunitas di kalangan mahasiswa dan eksekutif muda.
Tak hanya itu, ke depan,  Kaharpun berniat membuat ruang membaca di salah satu bagian Rumah Kopi untuk menampung komunitas pembaca di Balikpapan. Sebab saat ini tempat membaca umumnya berada di perpustakaan yang notabene berdisiplin ketat terutama dalam masalah santun membaca. Sementara sebagian kalangan tak sekedar butuh membaca saja, tetapi butuh pula ajang diskusi  terhadap apa yang mereka baca.  Dan Rumah Kopi-pun berniat membuat tempat membaca yang santai dan terbebas dari kekangan peraturan tata tertib dalam membaca.
“Kami ada beberapa buku bacaan.Kebetulan diantara kami juga senang membaca sambil berdiskusi. Namun untuk membuat semacam tempat membaca tentu memerlukan buku-buku yang tidak sedikit. Kami sangat mengharapkan ada yang mau mensupport buku-buku bacaan atau majalah,” ungkapnya.(sarita/habis)

Profil pemakai Ponsel

July 15, 2007

Riya Shinta Septemberiana

Kerjakan Tugas jadi lebih gampang

Kegunaan sebuah ponsel bagi Riya Shinta Septemberiana tidak saja untuk berkomunikasi namun bisa difungskikanuntukmembantu tugas dan pekerjaan. Gadis yang sekarnag duduk di semester VI Sospol Universitas Mulawarman ini merasa sangat terbantu dengan ponsel 9500 yang dimilikinya.

Kesibukannya di bangku kuliah dan sering menjadi sales promotion Gilr sebuah produk membuatnya bisa mengerjakan tugas dengan nyaman. Karena handphon berbodi besar yang dibeli pada bulan Agustus 2006 dilengkapi coomunicator yang membuatnya tidak kesulitan jika harus mengerjakan tugas di kampur atau ketika sedang bekerja.

Meskpi demikian Shinta mengaku awalnya merasa terganggu dengan bodi ponsel yang dibeli seharga Rp 6 juta. Namun setlah mengunakannya sekitar 8 bulan gadis yang berhasil menyabut Duta PON 2008 ini sudah terbiasa.

Selain suka menggunakan fasilitasi Comunicator, fasilitas lain yang dibasa digunakan Sinta asalah kamera. Tidak heran memang jika shita hobi difoto.

Shinta yang smeula menggunakan handphone jenis Nokia 6680 mengaku bukan orang yang boros dala mengugnakan pulsa. Namun pernah menghabiskan Rp 100.00 hanya dalam waktu empat hari.(ksw)

Saya Cuma Butuh Kesempatan

July 12, 2007

*Cerita Penjual Susu di atas Kapal

DITENGAH-tengah para tamu undangan yang terdiri dari orang-orang cacat, Muhammad Ilham tampil beda dari rekan-rekan lainnya. Dalam acara seminar penyandang cacat yang digelar Komunitas Penyandang Cacat (KPC), di Hotel Pacific Balikpapan, Rabu (11/7), lelaki berusia 40 tahun ini hadir dengan kemeja warna merah. Namun dari sekian undangan yang memenuhi restauran hotel itu, siapa sangka bila ternyata Ilham datang dari latar yang berbeda. Lajang yang hanya memiliki satu tangan ini ternyata adalah penjual susu di atas kapal fery jurusan Balikpapan-Panajam.

Memang baru tiga tahun ini ia menekuni pekerjaannya itu. Sebelumnya, alumni SMEA 1 Balikpapan tahun 1988 ini adalah pedagang asongan yang biasa berjualan di pelabuhan. Di atas kapal itu, Ilham menghabiskan hari-harinya demi sesuap nasi. Ia selalu hadir di dalam kapal penyebarangan yang mondar-madir melintasi teluk Balikpapan. Dengan fisiknya yang terbatas itu, ia harus rela mecari penghidupan dari satu kapal fery ke fery lain. Tidak jarang bila ia melakukan aktivitas itu hingga larut malam.
“Kalau penghasilnan saya tidak bisa diprediksi, tergantung pada jumlah penumpang mas. Kadang pernah sehari cuma bawa dua puluh ribu,” kata lelaki yang memiliki keterbatasan fisik sejak lahir ini. Untuk pergi ke pelabuhan Kariangau, setiap harinya pria yang tinggal di Jl Borobudur Rt 40 ini harus menggunakan angkutan kta atau ojek.

Anak kedua dari empat bersaudara ini tergolong orang yang giat bekerja. Meski hidup dengan keterbatasan fisik, Ilham memiliki prinsip hidup untuk tidak merepotkan orang lain. “Pokonya selama bisa saya kerjakan, akan saya kerjakan sendiri. Yang jelas jangan sampai membebankan orang lain,” ujarnya.

Lalu terhadap acaraseminar yang diadakan KPC itu, Ilham sangat antusias sekali mengikutinya. Karena ia merasa bertemu dngan rekan-rekan senasibnya. Ilham mengatakan bahwa selama ini orang-orang cacat seperti dirinya hanya dipandang sebalah mata oleh orang lain. Ada satu hal yang disayangkan Ilham dengan adanya acara tersebut, yakni ketidakhadiran instansi pemerintahan seperti Kantor Pemberdayaan Masyarakat (KPM). Memang ironis sekali. Ia berharap kedepannya pemerintah lebih menghargai kegiatan semacam ini.

“Kami tidak butuh dikasihani, tapi kami butuh diberi kesempatan, seperti pekerjaan. Karena kami memiliki potensi, tapi gak pernah diperhatikan,” keluhnya.(joi)

Tunggu Gebrakan saya.

July 5, 2007

Tenang dan santun. Jangan salah sudah banya pejabat ke meja hijau. Dari bupati, walikoa sampai anggota DPD.

Adalah Yuspar M lelaki kelahiran padan SUmber 28 Juni saat in menjabat seagai asiten pidana khusus Kejati kaltim.

Apa aja tantangan selama menjabat jabatan ini ?

Kenapa anda menyukai profesi ini. ?