Terminal Cargo Sepinggan Tolak Distribusi Barang Tanpa Dokumen SMU dan PTI

* Antisipasi Penyelundupan Senjata dan Bahan Peledak

Balikpapan, Tribun – Modus penyelundupan senjata api dan bahan peledak yang makin canggih yang diselundupkan melalui  bandar udara internasional di seluruh dunia mendorong terminal cargo Bandara Sepinggan memperketat pengawasan jalur-jalur perdagangan illegal lewat jasa pengiriman tersebut. Semua muatan barang  yang dicurigai tidak memenuhi persyaratan dilakukan pemeriksaan   berlapis melalui pengecekan ulang terhadap semua kelengkapan dokumen dan kebenaran muatan barang. Hal ini untuk antisipasi masuknya muatan senjata api  dan bahan peledak illegal. Muatan Cargo yang tidak dibekali dokumen resmi Surat deklarasi barang berbahaya (SDDG),  SMU dan PTI  akan ditolak bongkar muat oleh  perusahaan expedisi.
Manager Operasi SBU Warehousing Bandara Sepinggan F.E. Walenta mengatakan, pihaknya telah menyita barang-barang terlarang yang terdeteksi dari pemeriksaan antara lain  modus penyelundupan kulit ular dan kura-kura Brazil beberapa waktu lalu. Kini pengawasan penyelundupan barang terlarang makin diperkerat pada  antisipasi indikasi penyelundupan senjata api dan bahan peledak. Beberapa peralatan pendeteksi barang terlarang disiapkan setiap saat untuk mendeteksinya.
“Barang yang dicurigai kami adakan pemeriksaan ulang lewat X-Ray. Selain itu diadakan serangkaian pemeriksaan dokumen yang menjadai persyaratan utama antara lain SMU (surat muatan udara),  Pemberitahuan tentang isi (PTI).Untuk barang berbahaya wajib lampirkan surat Shipper Declaration For Dangers Goods (SDDG),” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (21/6).
9  jenis muatan barang yang wajib dilengkapi surat SDDG mengacu pada sistem pengawasan barang berbahaya IATA (International Air Transport Aviation) antara lain,  bahan peledak, gas, barang mudah terbaklar yang cair, barang padat mudah terbakar, raxun, radioaktif, barang campuran lainnya.  Kelas barang tersebut dinyatakan dalam status forbiden yang dilarang diangkut dan masuk bandara udara kecuali dibekali  surat resmi.
Kelengkapan dokumen lain yang merupakan standar operation procedure pemeriksaan terminal cargo bandara sepinggan adalah  kelengkapan dokumen pendukung, manifes cargo. Meskipun semua kelengkapan dokumen telah dimiliki bukan berarti muatan tersebut bisa dibawa keluar dari terminal cargo bandara sepinggan. Muatan cargo tersebut harus lolos pemeriksaan kesesuaian pencocokan jenis, berat, kebenaran isi manifes, dan persyaratan pengiriman muatan.
Apabila terindikasi  muatan  fisik  barang yang tertulis dalam manifes tidak sesuai dugaan isi barang didalamnya maka barang mencurigakan itu akan dipisahkan dan ditimbang ulang dan diperiksa ulang berdasarkan sistem break-down check-list. Terrminal Cargo Bandara SEpinggan berkordinasi dengan KP3,  Kepolisian dan security Bandara dalam memproses pengiriman barang berbahaya terutama indikasi penyelundupan senjata dan bahan peledak.
“Kami menerapkan screening extra ketat terutama pada kiriman  dari bandara yang tidak punya X-Ray dan tidak miliki peralatan pengamanan yang memadai.  Untuk barang impor kordinasi dengan bea cukai,” jelasnya.
Pemberlakuan standar kelayakan muatan barang cargo itu sudah berlaku baku. Ketidak lengkapan salah satu elemen pengiriman barang yang ditangani ekspedisi dipastikan dilarang keluar dari bandara dan diamankan.
“Kalau ternyata yang dikirim dan kemudian diperiksa barang DG (berbahaya) dan tidak penuhi syarat kami tolak,  apalagi yang menyangkut muatan seperti itu (senjata api dan bahan peledak-red),” terangnya. Sampai saat ini belum menemukan modus penyelundupan   senjata api dan bahan peledak lewat muatan cargo.(rid)

Perusahaan Expedisi Wajib Miliki Pegawai  Sertifikasi DG
Balikpapan, Tribun – Seluruh perusahaan ekspedisi yang beroperasi di Balikpapan tidak akan bisa mengeluarkan barang kiriman udara dari daerah lain apabila pegawai operasionalnya tidak memiliki keahlian dalam menangani muatan barang berbahaya.
Manager Operasi SBU Warehousing Bandara Sepinggan F.E. Walenta mengatakan,  keahlian muatan barang berbahaya  dimaksud adalah sertifikasi DG (dangerous Goods).
“Seluruh empu (pemilik-red) expedisi sebagai agent cargo penerbangan harus memiliki sumber daya manusia yang memiliki kualifikasi  DG  dari direktorat keselamatan penerbangan RI. Tanpa sertifikasi itu, tidak akan keluar   ijin pengeluaran kiriman barang,” jelasnya, Kamis (21/6).
Ketentuan itu berlaku secara internasional yang dikeluarkan IATA (International Air Transport Aviation). Pada aturan  terbaru ketentuan IATA edisi 46 mensyaratkan pengelola ware housing bandara, expedisi, petugas perusahaan penerbangan yang khusus tangani cargo memiliki sertifikasi handling-dangerous cargo hingga goods-handling officer.
Walenta menerangkan, pengelola ware house terminal cargo bandara sepinggan telah mendapatkan pengesahan  sertifikat Aviation Security Officer Licence, dan Dangerous Goods Air Transport Officer Licence B. Lisensi itu merupakan kewenangan bagi cargo-officer yang bekerja di terminal barang bandara tersebut. “Apalagi bagi perusahaan expedisi yang membawa barang berbahaya harus ada kualifikasi DG itu,” terangnya.
Dijelaskan, distribusi barang cargo yang masuk terminal bandara sepinggan akan diperiksa melalui pengelola warehousing yang kemudian ditangani goods handling dilanjutkan pemeriksaan lain sebelum akhirnya diterbitkan ijin pengangkutan barang keluar yang dibawa perusahaan expedisi.(rid).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: