Baru satu korban yang terselamatkan

* 13 Awak kapal masih mengapung Quito Jaya masih mengapung di laut
* Sanksinya Penjara 3 Bulan atau Denda 6 Juta Bila Tidak Menolong Kapal yang Celaka di Laut

Balikpapan, Tribun – Sampai saat ini bel;um ada kabar terbaru mengenai kondisi korban kapal yang terapung-apung di laut Jawa itu. Menurut infprmasi yang diperoleh dari kantor SAR Balikpapan, kemungkinan Basarnas akan memerintahkan unsur SAR dari lokasi yang terdekat, untuk mengevakuasi korban. Kantor SAR terdekat dari perairan itu adalah Pontianak dan Semarang.

Ketiga belas ABK kapal beserta kapten, yang kapalnya mengalami kerusakan di laut Jawa diperkiraakn masih terapung-apung di tengah lautan. Menurut Kabid Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Semayang Balikpapan, Gajah Rooseno, kapal yang ditumpangi ketiga belas ABK dan kaptennya diperkirakan labuh jangkar di perairan itu. Hal ini bisa dibuktikan karena kapal naas itu tidak bergerak kemana-mana. “Kalau tidak labuh jangkar, pasti kapal kayu itu terbawa arus kemana-mana, dan itu akan memepersulit pencarian,” kaya Gajah, Kamis (28/6).

Menurut Gajah, para ABK yang masih terkatung-katung di laut ini dapat bertahan asalkan persediaan logistiknya tercukupi. Setiap kapal yang akan berlayar menuju pelabuhan lain, ujar Gajah, setidaknya memiliki perkiraan waktu yang akan ditempuh. Dan persediaan logistik yang harus dimiliki minimal dua hari dari lamanya waktu perjalanan.

Dalam peristiwa itu, Nahkoda Kapal Tangker Quito Jaya hanya mengevakuasi Dedi Mulyadi, seorang ABK kapal naas, Minggu (24/6) lalu, dan tiba di Balikpapan Rabu (27/6) kemarin. Sedangkan ke-13 lainnya masih berada di laut. Menurut Gajah, kenapa nahkoda kapal tangker itu tidak mengevakuasi seluruh awak kapal kayu yang mengalami kerusakan mesin. “Mereka kuatir, karena modus perompakan di laut bisa saja menggunakan cara-cara seperti minta tolong seperti itu,” kata Gajah. Keaadaan itu diperkuat lagi dengan kondisi kapal yang mereka tumpangi, yang masih stabil, tidak miring atau tenggelam.

Namun demikian, dalam undang-undang yang mewajibkan setiap kapal untuk menolong musibah kecelakaan kapal di laut. Undang-undang nomor 21 tahun 1992 pasal 90 ayat 1 itu berisi tentang kewajiban nahkoda untuk menolong kapal yang terkena musibah sesuai dengan kemampuannya. “Bila tidak menolong kapal yang celaka, maka sang nahkoda bisa diganjar hukuman kurungan 3 bulan dengan denda Rp 6 juta,” kata Gajah. (joi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: