Saya Cuma Butuh Kesempatan

*Cerita Penjual Susu di atas Kapal

DITENGAH-tengah para tamu undangan yang terdiri dari orang-orang cacat, Muhammad Ilham tampil beda dari rekan-rekan lainnya. Dalam acara seminar penyandang cacat yang digelar Komunitas Penyandang Cacat (KPC), di Hotel Pacific Balikpapan, Rabu (11/7), lelaki berusia 40 tahun ini hadir dengan kemeja warna merah. Namun dari sekian undangan yang memenuhi restauran hotel itu, siapa sangka bila ternyata Ilham datang dari latar yang berbeda. Lajang yang hanya memiliki satu tangan ini ternyata adalah penjual susu di atas kapal fery jurusan Balikpapan-Panajam.

Memang baru tiga tahun ini ia menekuni pekerjaannya itu. Sebelumnya, alumni SMEA 1 Balikpapan tahun 1988 ini adalah pedagang asongan yang biasa berjualan di pelabuhan. Di atas kapal itu, Ilham menghabiskan hari-harinya demi sesuap nasi. Ia selalu hadir di dalam kapal penyebarangan yang mondar-madir melintasi teluk Balikpapan. Dengan fisiknya yang terbatas itu, ia harus rela mecari penghidupan dari satu kapal fery ke fery lain. Tidak jarang bila ia melakukan aktivitas itu hingga larut malam.
“Kalau penghasilnan saya tidak bisa diprediksi, tergantung pada jumlah penumpang mas. Kadang pernah sehari cuma bawa dua puluh ribu,” kata lelaki yang memiliki keterbatasan fisik sejak lahir ini. Untuk pergi ke pelabuhan Kariangau, setiap harinya pria yang tinggal di Jl Borobudur Rt 40 ini harus menggunakan angkutan kta atau ojek.

Anak kedua dari empat bersaudara ini tergolong orang yang giat bekerja. Meski hidup dengan keterbatasan fisik, Ilham memiliki prinsip hidup untuk tidak merepotkan orang lain. “Pokonya selama bisa saya kerjakan, akan saya kerjakan sendiri. Yang jelas jangan sampai membebankan orang lain,” ujarnya.

Lalu terhadap acaraseminar yang diadakan KPC itu, Ilham sangat antusias sekali mengikutinya. Karena ia merasa bertemu dngan rekan-rekan senasibnya. Ilham mengatakan bahwa selama ini orang-orang cacat seperti dirinya hanya dipandang sebalah mata oleh orang lain. Ada satu hal yang disayangkan Ilham dengan adanya acara tersebut, yakni ketidakhadiran instansi pemerintahan seperti Kantor Pemberdayaan Masyarakat (KPM). Memang ironis sekali. Ia berharap kedepannya pemerintah lebih menghargai kegiatan semacam ini.

“Kami tidak butuh dikasihani, tapi kami butuh diberi kesempatan, seperti pekerjaan. Karena kami memiliki potensi, tapi gak pernah diperhatikan,” keluhnya.(joi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: