Raisa Catering, Hobi Yang Keterusan (1)

> Bermula Dari Rantangan ke Rumah-Rumah

JASA penyedia makanan siap saji alias catering saat ini, tak hanya menjadi kebutuhan para pekerja khususnya yang masih single, namun banyak pasangan baru atau pasangan bekerja ternyata menggantungkan isi perut mereka dari jasa para pemasak ulung.  Berbagai alasanpun mengemuka. “Lebih simple tinggal menyiapkan alat makan,” ungkap seorang pelanggan jasa catering. Sementara lainnya beralasan lebih hemat, tidak perlu berbelanja bermacam bahan makanan yang kalau dihitung-hitung bisa lebih mahal.
Selain itu, untuk acara-acara besar dan penting yang identik dengan perjamuan, jasa catering cukup memegang peranan penting di dalamnya. Raisa Catering & Service, milik Iing T Abram adalah salah satunya di Balikpapan. Terbilang baru, namun dalam berbagai acara, nama Raisa cukup dikenal. Mulai dari suguhan kue-kue, makan siang hingga acara pernikahan. Kartu nama disertai brosur selalu terpajang rapi dalam setiap penyajian. “Ini salah satu kiat promosi  yang dilakukan agar lebih banyak orang yang mengetahui usahasaya,” ungkap Iing ketika ditemui Tribun dalam sebuah kesempatan.
Ibu tiga anak inipun menuturkan, bisnis catering dilakoninya sejak tahun 2003 lalu. Awalnya sekedar hobi memasak yang disuguhkan ketika arisan, ulang tahun atau pertemuan antar keluarga. Ternyata satu per satu tertarik untuk berlangganan. Jadilah Iing membuka paket rantangan.
“Kali pertama, pelanggan saya ada 25 orang saja. Semuanya saya masak sendiri. Satu paket rantangan sekali makan, saya jual Rp 15.000. Baru empat bulan berjalan, saya mendapat tawaran untuk memasak diacara pertemuan sebuah perusahaan. Menarik dan merasa tertantang, tawaran tersebut langsung saya ambil,” tutur Iing.
Dari sana, ia mulai berpikir untuk serius menekuni hobinya. Alhasil,  jasa catering yang berbadan hukum dengan nama Raisa, berdiri pada 2004. “Tawaran mulai banyak. Saya juga harus merekrut tenaga kerja sekaligus melengkapi berbagai alat operasional usaha, terutama kendaraan angkutan. Sehingga badan hukum sangat diperlukan,” tambahnya.
Sekarang, sedikitnya 20 pekerja bergantung dari hobi Iing yang keterusan ini. Bisnis rantangannyapun berkembang pesat. Jumlahnya antara 400 hingga 500 orang  dengan harga sekitar Rp 25.000 per paket. Sementara order untuk menyajikan makanan matang di berbagai kegiatan sepertinya tak pernah putus. Bahkan beberapa perusahaan dan instansi secara khusus selalu menggunakan jasa cateringnya untuk perjamuan, seperti Bank Indonesia, PLN serta Pemkot Balikpapan.Belum lagi orderan dari beberapa acara hajatan serta pernikahan yang menggunakan jasa cateringnya.(sar/bersambung)

Raisa Catering, Hobi Yang Keterusan  (2)
> Promosi Jadi Kiat Utama

SUKSES mengembangkan bisnis home industri di bidang makanan tak membuat Iing terlena. Salah satu kiat jitu yang digunakannya untuk terus meningkatkan usahanya adalah dengan giat berpromosi, kapan saja, dimana saja dan pada siapa saja. Iapun aktif ke beberapa perusahaan maupun instansi pemerintahan untuk menawarkan jasa cateringnya melalui presentasi maupun memasukkan company profil.
“Dengan menjadi seperti sekarang, saya tidak bisa duduk diam. Kompetitor di bidang ini juga banyak. Sementara ada puluhan pekerja yang menjadi tanggung jawab saya. Berbagai peluang harus saya raih. Salah satu cara adalah berpromosi. Membuat kartu nama dan brosur dalam jumlah banyak serta memajangnya disetiap acara maupun kegiatan yang menggunakan jasa catering Raisa,” ungkapnya.
Untuk kalangan tertentu, Iing-pun tak segan-segan memberikan harga promosi  bagi jasa cateringnya. Tarif termurah yang ditawarkan biasanya Rp 20.000 per porsi. Namun Iing terkadang harus bersikap fleksible dengan ketersediaan dana kliennya. Baru kemudian ia menawarkan menu yang akan disajikan.
“Saya menganut paham, pelanggan saya puas, saya juga akan puas. Soal untung, dalam berusaha pasti ada. Tapi kadang kita juga tidak bisa memaksakan orang untuk membeli dengan harga yang kita tawarkan. Pasti ada negoisasi sebelum mencapai sepakat. Itu yang saya utamakan,” terangnya.
Kiat lain yang dilakukannya adalah dengan membuat variasi dalam setiap penampilan cateringnya. Costumernya tak hanya mendapatkan makanan saja, tetapi juga tatanan yang menarik serta hiasan pendukung lainnya sesuai nuansa yang diinginkan. Bisa berupa taman mini, pohon-pohonan hingga ice carving.
Tapi jangan tanya soal pendapatan yang diperolehnya. Iing termasuk orang yang enggan buka- bukaan soal keuangan dan keuntungan yang diperolehnya. Bayangkan saja, dari usaha rantangan, ia telah memperoleh penghasilan tetap. Belum lagi dari order catering besar dari klien tetapnya. “Cukuplah untuk menggaji karyawan juga ada sedikit buat saya. Bisnis ini berangkat dari hobi, bukan sekedar mencari uang tetapi kepuasan. Jadi tidak ada beban untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya,” ungkap wanita berdarah Padang ini ramah.(sarita/bersambung)

Raisa Catering, Hobi Yang Keterusan (3-Habis)
> Melebarkan Sayap ke Pertambangan

SAAT ini, jiwa bisnis Iing terus bergejolak. Dukungan suami menjadi pendorong dirinya untuk terus mengembangkan bakat dan potensi. Tak cukup di Balikpapan saja, bisnisnyapun mulai merambah ke beberapa daerah seperti Penajam dan Samarinda. Tapi masih ada keinginannya yang belum tercapai. Menangani catering di lokasi pertambangan.
“Saya ingin bisa mensupply makanan ke lokasi tambang seperti camp, rig atau perkantorannya. Tidak perusahaan tambang yang terlalu besar, yang biasa-biasa saja. Sudah ada beberapa perusahaan tambang Batubara di daerah Kutai Kertanegara yang saya jajaki. Namun belum ada kepastian,” ungkapnya.
Dalam pemenuhan bahan pangan Iing sudah memiliki jaringan yang luas. Mulai dari pemasok sayur mayur, daging, telur hingga ayam. Setiap hari, para pemasok itu datang mengantar pesanan.
Kepiawaiannya dalam bisnis makanan memang tak perlu diragukan lagi. Iapun terbukti mahir dalam mengikat hati pelanggannya dengan beragam inovasi penyajian makanan. Tak hanya makan Indonesia dan Cina yang umum ditemukan di restoran,  makanan ala Eropa dengan standar hotel berbintang juga bisa diperoleh di cateringnya.
“Beberapa pekerja khususnya koki, selalu saya ikutkan pelatihan maupun kursus. Terkadang juga saya ajak studi banding ke beberapa restoran di hotel-hotel berbintang, agar menu dan vasiasi makanan yang mereka sajikan terus berkembang juga,” terangnya.
Meski demikian, Iing mengaku belum berpikir untuk merambah usaha even organizer yang biasanya menempel pada jasa penyedia makanan. Maklum, untuk acara pernikahan, tak jarang beberapa klien meminta Iing juga menyiapkan dekorasi, penata rias, foto hingga paket baju pernikahan.
“Saya belum berpikir ke arah sana. Fokus saya dibidang catering saja. Namun, kalau mereka meminta, saya juga punya mitra kerja untuk hal-hal lain yang dibutuhkan. Tapi saya hanya sebagai penghubung saja. Tidak mengambil keuntungan dari sana. Kalau EO, saya harus total dan mengambil keuntungan juga dari jaringan saya itu,” tambahnya.(sarita)
Rumah Kopi, Rumahnya Pecinta Kopi (1)
> Bermodal Iseng dan Kesamaan Hobby

MEMBANGUN suatu bisnis baru bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi untuk mewujudkannya harus merogoh kocek yang cukup lumayan besar. Namun, lima sekawan yang bisa dibilang masih awam di dunia bisnis, nekat mengambil tantangan dengan mendirikan usaha waralaba yang berbeda dengan yang ada pada umumnya.
Rumah Kopi. Dari namanya, tentu bisa ditebak menu utama yang ditawarkan tentu berasal atau berbahan baku kopi. Bahkan aroma khas kopi-pun sudah mulai tercium kala kaki mulai memasuki teras depan. Letaknya di kawasan Gunung Pasir Balikpapan, cukup terbilang strategis. Karena tepat di jantung Kota Balikpapan. Sekilas tampak seperti rumah biasa. Beberapa kursi kayu tertata rapi di halaman, berpadu dengan temaramnya sinar lilin yang sengaja diletakkan di tiap meja.  Ditambah sejuknya pepohonan yang memadati halaman sekitar, menjadikan Rumah Kopi sebagai tempat nongkrong yang representatif terutama bagi kalangan muda. “Sesuai namanya, menu utama yang kami sajikan tentu saja kopi. Mulai dari espresso, capuccino hingga beberapa kreasi minuman lainnya yang berbahan kopi,” terang Manager sekaligus salah satu pemilik Rumah Kopi, Kaharuddin.
Ia menuturkan, ide mendirikan usaha tersebut bermula dari sebuah obrolan iseng antar teman semasa kuliah dulu.  Dan kebetulan mereka juga memiliki minuman favorit yang sama, yakni kopi. Namun untuk menemukan tempat ngopi murah meriah sekaligus tempat ngobrol ngalur ngidul yang nyaman sulit ditemukan di Balikpapan. Akhirnya, tercetuslah ide untuk mendirikan sebuah tempat minum kopi yang santai sekaligus bisa menjadi tempat berdiskusi. “Mulanya sih cuma ingin punya tempat ngopi yang nyaman. Tapi lama kelamaan, idenya berkembang bagaimana kalau tak sekedar tempat ngopi saja, tetapi juga menjadi tempat diskusi dan tempat tukar menukar informasi. Terutama bagi kalangan pelajar dan mahasiswa. Kebetulan lokasi yang dipilih untuk rumah kopi juga sangat berdekatan dengan beberapa tempat pendidikan seperti SMU, SMP dan tempat perkuliahan,” ungkapnya.
Merekapun akhirnya saling merogoh kocek masing-masing untuk mulai mewujudkan mimpinya. Sedikit demi sedikit uang tabunganpun terpaksa terkuras.  Maklum, untuk mendirikan bisnis tersebut ternyata membutuhkan dana sekitar Rp 100 juta. Termasuk biaya kontrak rumah, furniture hingga alat penggiling kopi.   Alhasil, pada 24 November 2005, Rumah Kopi dengan menu utama berbagai kreasi minuman berbahan kopi dibuka. “Tak ada target yang akan dicapai saat itu. Kami hanya ingin punya tempat ngumpul bersama teman-teman sambil ngopi bareng. Kalaupun ternyata harus gulung tikar, ya sudah resiko. Ibaratnya asal bisa jalan saja kami sudah senang. Karena ini akan jadi pengalaman tersendiri buat kami semua,” tambahnya. (sarita/bersambung)

Rumah Kopi, Rumahnya Pecinta Kopi (2)
Bidik Komunitas Sebagai Konsumen

PEMINUM kopi tentu sangat banyak. Namun yang memiliki kesenangan untuk ngopi di luar rumah bersama teman-teman atau relasi tentu hanya sebagian saja. Rumah Kopi dalam kiprahnya di dunia bisnis waralaba lebih pada tempat minum kopi saja tanpa menawarkan sajian makanan berat ataupun makanan ringan yang beraneka ragam. Cukup pisang goreng keju dan kentang goreng saja sebagai teman minum kopi. Simple dan praktis baik dalam pengolahan maupun penyajian.
Begitu juga kalangan yang dibidik Rumah Kopi sebagai konsumennya. Mereka lebih membidik kalangan komunitas dan coffee lover sebagai konsumennya. Bahkan saat ini tempat tersebut sering kedatangan sekelompok pelajar maupun mahasiswa dari salah satu lembaga kursus Bahasa Inggris terkenal di Balikpapan untuk belajar kelompok atau berdiskusi.  “Kebetulan kami ada kerja sama untuk menggunakan Rumah Kopi sebagai tempat pertemuan. Sehingga secara berkala mereka datang untuk berdiskusi ataupun menggelar kelompok belajar,” ujar Kaharuddin Manager Rumah Kopi.
Selain itu, kelompok pecinta musik jazz juga sering menjadikan Rumah Kopi sebagai tempat kumpul bareng sambil mendengarkan alunan musik jazz. “Kopi dan musik jazz merupakan pasangan yang pas,” tambahnya.
Diakui Kahar, kembali pada tujuan pendirinyannya yakni bagaimana membuat Rumah Kopi yang di dalamnya memuat berbagai komunitas, tentu saja komunitaspun menjadi sasaran bidik mereka. Apalagi komunitas di kalangan mahasiswa dan eksekutif muda.
Tak hanya itu, ke depan,  Kaharpun berniat membuat ruang membaca di salah satu bagian Rumah Kopi untuk menampung komunitas pembaca di Balikpapan. Sebab saat ini tempat membaca umumnya berada di perpustakaan yang notabene berdisiplin ketat terutama dalam masalah santun membaca. Sementara sebagian kalangan tak sekedar butuh membaca saja, tetapi butuh pula ajang diskusi  terhadap apa yang mereka baca.  Dan Rumah Kopi-pun berniat membuat tempat membaca yang santai dan terbebas dari kekangan peraturan tata tertib dalam membaca.
“Kami ada beberapa buku bacaan.Kebetulan diantara kami juga senang membaca sambil berdiskusi. Namun untuk membuat semacam tempat membaca tentu memerlukan buku-buku yang tidak sedikit. Kami sangat mengharapkan ada yang mau mensupport buku-buku bacaan atau majalah,” ungkapnya.(sarita/habis)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: