Sekilas Perkembangan Bisnis dan Finansial Balikpapan Juni-Juli 2007

Realisasi Kredit Capai Rp 1,69 Miliar
> BI Samarinda Latih KKMB SKP se-Kaltim

Balikpapan, Tribun – Bank Indonesia Samarinda bekerjasama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kaltim menggelar pelatihan calon Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) sektor kelautan dan perikanan di wilayah Kaltim.  Pelatihan yang diikuti 30 peserta ini dibuka oleh Direktur Usaha dan Investasi Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Widodo Farid Ma’ruf di hotel Nuansa Indah Balikpapan, Kamis (7/6) malam.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala BI Samarinda, Imam Supeno mengatakan pelatihan ini merupakan tindak lanjut kesepakatan antara Gubernur BI dan Menteri Kelautan dan Perikanan setahun lalu. “Kegiatan ini merupakan salah satu upaya pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Kaltim selain pelatihan pelatihan pemberian kredit secara kelompok bagi Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan pelatihan kewirausahaan pengusaha mikro dan kecil dampingan KKMB,” kata Imam.
Dalam perkembangannya, Imam menuturkan, KKMB Kaltim telah menunjukkan kinerja yang cukup menggembirakan. “Pada tahun 2006 lalu, realisasi kredit UMKM dampingan KKMB telah mencapai Rp 1,69 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 344 persen dibanding pada 2005. Dengan debitur sebanyak 99 UMKM,” ujar Imam.
Tak hanya itu, dari kajian BI Samarinda, analisis LQ terhadap sub sektor PDRB, perikanan merupakan sub sektor unggulan beberapa daerah di Kaltim, meliputi Kota Tarakan, Kabupaten Bulungan, Kabupaten Pasir dan Kabupaten Nunukan.
Bahkan dari segi pembiayaan oleh perikanan, lanjut Imam, kredit yang disalurkan peda sektor perikanan per April 2007 baru mencapai Rp 60,1 miliar atau dengan pangsa 0,47 persen dari total kredit. Kualitas kredit di sektor perikanan juga kurang menggembirakan. Rasio kredit bermasalah tercatat 37,7 persen. Terbesar dialami Kota Samarinda mencapai Rp 14,4 miliar dan Kabupaten Kutai Kertanegara sebesar Rp 5 miliar.
“Dari persepsi risiko dapat dikatakan bahwa kredit sektor perikanan memiliki tingkat risiko yang relatif tinggi. Hal ini didukung pula oleh fakta, bahwa dari Rp 73,6 miliar kredit yang telah disetujui, sebesar Rp 13,6 miliar belum direalisasikan,” ujar Imam.
Di sinilah, peran KKMB SKP untuk menjembatani informasi yang tidaj simetris antara pelaku UMKM di sektor kelautan dan perikanan dengan dunia Perbankan. (sar)

Kucuran Kredit Capai Rp 4,9 Triliun
> Pertumbuhan Rata-rata 20 Persen

Balikpapan, Tribun –  Kucuran kredit Perbankan Balikpapan cukup meningkat. Data Februari 2007 lalu yang berhasil dihimpun Bank Indonesia Balikpapan, tercatat Rp 4,9 triliun dana kredit yang telah dikucurkan oleh 29 bank di Balikpapan, baik bank pemerintah maupun bank swasta.
Dari jumlah tersebut, kucuran kredit modal kerja menduduki posisi tertinggi dengan jumlah kucuran Rp 1,8 triliun, disusul kucuran kredit investasi sebesar Rp 1,2 triliun di peringkat kedua dan peringkat ketiga diduduki kucuran kredit konsumsi sebesar Rp 194 miliar.
Kepala Bank Indonesia Balikpapan, Causa Iman Karana mengatakan hampir seluruh bank meningkatkan alokasi dana kreditnya dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 18 hingga 20 persen di tahun 2007 ini. Padahal tahun sebelumnya pertumbuhan kredit rata-rata hanya sekitar 9 persen saja.
“Perbankan sedang giat-giatnya meningkatkan jumlah kucuran kreditnya ke masyarakat. Namun masalahnya, dikucurkan kemana? Sebab pergerakan sektor riil di Balikpapan masih agak lambat. Itu berpengaruh juga pada penyaluran kredit dari Perbankan,” ungkap Causa, Senin (2/4).
Menurut Causa, besarnya kucuran kredit ke masyarakat dari Perbankan sangat bergantung pada pertumbuhan sektor riil. Dan sejauh ini pertumbuhan sektor riil agak terkendala dengan masalah kepastian berusaha, hukum dan infrastruktur yang memadai seperti jalan, air dan listrik.
“Bidang property, misalnya. Masyarakat yang ingin membeli rumah, tentunya menuntut ketersediaan fasilitas air dan listrik. Tapi kondisi pasokan listrik kita masih terkendala. Ini berpengaruh pula pada daya beli di masyarakat yang akhirnya menjadi kendala bagi pengusaha perumahan di Balikpapan,” ujar Causa.
Ditambahkan, meningkatnya angka kucuran kredit Perbankan dimungkinkan karena sebagian dana mereka banyak yang menganggur. Alternatifnya selain menyalurkan kredit ke masyarakat, juga menyimpan dalam bentuk SBI. Tetapi tidak semua dana yang diajukan ke SBI lantas dikabulkan.
“Bank harus pintar-pintar mengatur likuiditasnya. Alokasi kredit sebisa mungkin tersalur semua. Terutama kredit-kredit berbasis modal kerja dan investasi,” kata Causa.(sar)

Kucuran Kredit Perbankan Balikpapan
(Posisi Februari 2007)
Jenis Kredit        Jumlah
Modal kerja        Rp 1,8 triliun
Investasi         Rp 1,2 triliun
Konsumsi        Rp 194 miliar
Sumber : Kantor BI Balikpapan/sar

Simpanan Giro Turun 8,06 Persen
> Akibat Lambatnya Perda APBD

Balikpapan, Tribun –  Dana perbankan Kota Balikpapan mengalami penurunan hingga Rp 74,5 miliar, pada kuartal I/2007 (Januari-Maret). Dari semula Rp 7,1 triliun pada akhir Desember 2006 menjadi Rp 7,02 triliun pada akhir  triwulan I/2007. Penurunan ini utamanya terjadi pada simpanan dalam bentuk giro yang mencapai 8,06 persen, atau sebesar Rp145 miliar.
Pimpinan Kantor Bank Indonesia Balikpapan Causa Iman Karana menyatakan penyebab turunnya simpanan giro antara lain akibat masih belum disahkannya Perda Anggaran Pengeluaran dan Belanja Daerah (APBD) Kota Balikpapan hingga akhir kuartal I/2007. “Kondisi ini menyebabkan belum ada dropping dana Pemda ke Perbankan. Sementara itu, belanja rutin Pemda masih menggunakan Sisa Anggaran Lebih/SAL tahun lalu yang disimpan dalam bentuk giro,” kata Iman akhir pekan lalu.
Saat ini, kata Causa, seiring telah disahkannya Perda APBD pada 9 April lalu diharapkan ada dropping dana dari pusat untuk mendorong perekonomian.
Sementara itu, jenis simpanan lainnya lanjut Iman, menunjukkan angka peningkatan. Di antaranya  deposito yang meningkat 0,15 persen mencapai Rp 3,8 miliar dan tabungan yang naik sebesar 2,48 persen atau Rp 66,8 miliar.
Kenaikan tersebut, menurut Iman, mengindikasikan masih tingginya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Perbankan. Karena kenaikan terjadi pada jenis simpanan yang berjangka waktu lebih panjang. Di samping, tidak berpengaruhnya pemberlakukan peraturan penurunan jumlah simpanan yang dijamin oleh Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) hingga Rp100 juta pada Maret lalu, terhadap behaviour masyarakat untuk menempatkan dananya di bank.
“Kepercayaan masyarakat pada Perbankan saat ini masih tinggi, kendati program penjaminan LPS semakin terbatas. Hal ini terlihat dari sekitar 98 persen dana masyarakat yang disimpan di Perbankan, di bawah Rp100 juta,” ujar Iman.(sar)

Fluktuasi DPK Perbankan Kuartal I/2007
Jenis        Triwulan I/2006    Akhir 2006    Triwulan I/2007
Giro         Rp 1,4 triliun        Rp 1,8 triliun    Rp 1,6 triliun
Deposito    Rp 2,28 triliun        Rp 2,6 triliun    Rp 2,61 triliun
Tabungan    Rp 2,29 triliun        Rp 2,69 triliun    Rp 2,75 triliun
Keterangan :
DPK : Dana Pihak Ketiga
Data dihimpun dari 26 bank di Balikpapan
Sumber : BI Balikpapan/ (sar)

Rp 15 Miliar Untuk Empat Koperasi
> Bank Agro Salurkan Kredit Perkebunan

Balikpapan, Tribun –  Bank Agro  dan PT Perkebunan Nusantara XIII menandatangani penyaluran kredit sebesar Rp 15 miliar untuk empat koperasi perkebunan kelapa sawit di Kaltim dan Kalsel. Prosesi penandatanganan dilakukan oleh pihak PT PN XIII, Bank Agro dan pihak koperasi di Hotel Benakutai, Kamis (3/5), dengan disaksikan pejabat dari Bank Agro dan PT PN perwakilan Kaltim.
Kabag Kredit Ritel Agribisnis Bank Agro, Muryanto mengatakan program ini merupakan program pembiayaan tahap II yang dikucurkan Bank Agro pada sektor perkebunan kelapa sawit di Kaltim dan Kalsel. Ada empat koperasi yang akan mendapatkan kredit usaha perkebunan, tiga koperasi di Kecamatan Long Kali Kabupaten Paser, yakni KSU Bayu Beo, KUD Sumber Rejeki dan KUD Pelita Harapan dengan total alokasi dana, Rp 10,3 miliar untuk lahan perkebunan seluas 468 hektar. Satu koperasi berada di Pamukan Kalsel, yakni KSU Mufakat Baru dengan dana kredit Rp 4,6 miliar untuk lahan perkebunan seluas 204 hektar.
“Kredit yang kami berikan bisa langsung dicairkan dengan tetap memperhatikan progres di lapangan. Nanti ada laporan pertanggungjawaban terhadap realisasi usaha perkebunan setiap periode dari petani,” ujar Muryanto.
Menurutnya, bisnis market Bank Agro sejauh ini memang bergerak di perkebunan. Dan kebetulan khsuus untuk Kaltim, perkebunan yang mendapat alokasi kredit, baru kelapa sawit. “Sejauh ini, kami sudah menyalurkan sedikitnya Rp 80 miliar dari total kredit perkebunan yang tersalur di seluruh Kalimantan sebesar Rp 200 miliar,” ungkap Muryanto.
Mengenai alokasi kredit, Muryanto mengatakan secara nasional, Bank Agro mengalokasikan dana Rp 150 miliar untuk tahun 2007 ini. Dengan bunga sekitar 16 -17 persen. Namun penyerapan belum sebanyak alokasi yang ditentukan. Sebab harus melihat progres kemajuan di lapangan juga.
“Kalimantan bisa mendapat tambahan alokasi dana kredit antara Rp 40-50 miliar,” kata Muryanto.
Sementara itu, General Manager PT PN XIII Kalimantan, Anang Chairul menargetkan pertumbuhan perkebunan PT PN di Kaltim mencapai 5.000 hektar per tahun. Terutama di kawasan Muara Gedang Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) yang sedang menjadi fokus PT PN.
“Luas perkebunan kami (PT PN, red) di Kalimantan mencapai 60.000 hektar untuk lahan inti dan 80.000 hektar untuk lahan plasma. Tahun ini, program kami akan mengembangkan perkebunan kelapa sawit seluas 2.000 hektar di Tajati dan Long Kali,” ungkap Anang. (sar)

Kredit Bank Agro
Provinsi     Dana            Luas Lahan    Koperasi
Kaltim        Rp 4,6 miliar        204 hektar    KSU Mufakat Baru
Kalsel        Rp 10,3 miliar        468 hektar    KSU Bayu Beo
KUD Sumber Rejeki
KUD Pelita Harapan (sar)

Target Kredit Griya BSM Rp 20 Miliar
> Tingkat Margin Mulai 7,8 Persen

Balikpapan, Tribun – Bank Syariah Mandiri (BSM) pusat telah meningkatkan alokasi kredit perumahan hingga Rp 700 miliar pada tahun ini. Di Balikpapan, kredit perumahan melalui produk Griya BSM ditargetkan mencapai Rp 20 miliar dengan tingkat margin mulai 7,8 persen. Sementara untuk besaran plafon pembiayaan  maksimum Rp 5 miliar.
Berbeda dengan kredit perumahan bank konvensional yang mengikuti fluktuasi bunga pasar, tawaran produk Griya BSM cukup menggiurkan. Menggunakan sistem jual beli dengan perhitungan tingkat margin yang berlaku, pembayaran cicilan tidak naik turun alias flat.
Akad yang digunakan adalah akad murabahah, yakni  akad jual beli antara bank dan nasabah. Bank membeli barang yang dibutuhkan dan menjualnya kepada nasabah sebesar harga pokok ditambah dengan keuntungan margin yang disepakati.
“Sistem kami (Griya BSM, red), konsumen tinggal menunjukkan rumah yang akan dibeli, kami yang akan membeli ke pengembang. Selanjutnya kami menjual rumah tersebut pada nasabah dengan harga rumah yang kami beli ditambah tingkat margin yang berlaku, dibagi masa kredit yang diinginkan nasabah. Itulah jumlah cicilan yang harus dibayarkan nasabah pada kami,” ungkap Kepala Cabang BSM Balikpapan, Edi Dwi Efendi ketika ditemui Tribun di ruang kerjanya, Kamis (12/4).
Meski demikian, menurut Edi pelayanan pembiayaan BSM Balikpapan masih tetap fokus pada pembiayaan modal kerja dan investasi. Kisaran alokasinya lebih dari 75 persen. Sementara untuk pembiayaan konsumtif seperti jual beli rumah maupun kendaraan baru sekitar 20-an persen.
“Kami selaku bank syariah juga sering mendapat kritikan soal pembiayaan sistem jual beli ini. Orang banyak bertanya mengapa tidak menggunakan sistem bagi hasil. Mereka berharap syariah lebih pada usaha bagi hasil. Maka dari itu, pembiayaan konsumtif ini tidak terlalu dominan dalam kegiatan Perbankan kami,” kata Edi.
Lebih jauh mengenai Griya BSM, Edi mengatakan prosesnya cukup mudah dan cepat. Bahkan produk tersebut berlaku fleksible, yakni tak hanya untuk pembelian rumah baru, tetapi juga rumah second. Jangka waktu pembiayaan juga panjang atau disesuaikan dengan kemampuan nasabah dengan fasilitas autodebet dari tabungan BSM. Sehingga nasabah tak perlu direpotkan mengantri ke bank setiap bulan hanya untuk membayar cicilan pembelian rumah.(sar)

Syarat :
* Berstatus karyawan dengan penghasilan tetap
* WNI cakap hukum
* Usia minimal 21 tahun dan maksimal 55 tahun pada saat jatuh tempo pembiayaan
* Maksimum pembiayaan 70 persen dari harga beli rumah
* Besar angsuran tidak melebihi 40 persen dari penghasilan bulanan bersih
Dokumen yang diperlukan:
* Fotokopi KTP pemohon
* Fotokopi Kartu Keluarga
* Fotokopi Surat Nikah (bila sudah menikah)
* Asli slip Gaji & Surat Keterangan Kerja
* Fotokopi Tabungan/Rekening Koran 3 bulan terakhir
* Fotokopi NPWP untuk pembiayaan di atas Rp 50 juta
* Fotokopi rekening telepon dan listrik
* Fotokopi SHM/SHGB
* Fotokopi IMB dan Denah Bangunan(sar)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: