Sri Edi Swasono : Koperasi Dianak-tirikan

Balikpapan, Tribun – Pejabat Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin)  RI Prof Dr Sri Edi Swasono  menyatakan prihatin pada  sikap perbankan dan pemerintah yang kurang peduli terhadap pemberdayaan koperasi di Indonesia. Keprihatinan itu muncul seiring rendahnya alokasi kredit bank  yang dikucurkan  pada koperasi dan  koperasi sulit  memperoleh pemberdayaan dan pembinaan dari pemerintah.
“Bukan koperasi saja, segala yang kecil dianak-tirikan. Saya kecewa mendalam karena bank lebih memikirkan pembangunan ekonomi. Sedangkan pembangunan ekonomi tidak  bisa dilepaskan  dengan pembangunan manusia,” katanya.
Pernyataan itu dikemukakan usai memberikan orasi ilmiah pada seminar memperingati hari koperasi ke- 60 mengangkat tema  pengentasan kemiskinan melalui gerakan Koperasi di aula Pemkot Balikpapan, Sabtu (21/7).
Menurutnya,  krisis ekonomi yang melanda Indonesia sampai saat ini telah membuktikan bahwa koperasi mampu bertahan dan memberikan kontribusi pada perekonomian Indonesia. Namun kenyataannya dalam pemberian fasilitas kredit dan bantuan teknis justru diabaikan. Malahan pengusaha kelas kakap dan bankir bermasalah yang selama ini merontokkan ekonomi bangsa dimanjakan dengan berbagai fasilitas mulai dari  BLBI, kebijakan  KLBI dan penerbitan obligasi rekap yang mengerogoti dana negara.
“Maka dari itu Saya bilang rakyat itu posisinya harus diangkat kembali ke tingkat substansial bukan residual,” jelasnya.
Maksudnya, ekonomi berbasis kerakyatan harus mendapatkan dukungan dari semua pihak khususnya perbankan dan pemerintah. Gerakan ekonomi kerakyatan harus dikedepankan melalui kebijakan moneter yang mengutamakan pemberdayaan usaha kecil dan koperasi.
Pemberdayaan ekonomi kerakyatan menurut Sri Edi Swasono memberikan pengaruh besar pada pengentasan kemiskinan. Agar rakyat mampu memperbaiki taraf ekonomi mereka, maka kebijakan yang diterapkan semestinya memberdayakan peran rakyat yang mengubah posisi rakyat yang semula jadi beban menjadi diubah menjadi aset pembangunan.
“Oleh karena itu pembangunan tidak lagi teori lama adalah peningkatan pendapatan per kapita. Tapi  pembangunan adalah peningkatan kemampuan rakyat,” jelasnya.
Sri Edi Swasono menyatakan apresiasi  atas sejumlah pengusaha koperasi di Kalimantan yang berhasil mengembangkan usaha koperasi.  Apabila ada kepedulian perbankan dan pemerintah untuk memfasilitasi usaha tersebut maka tidak menutup kemungkinan dikembangkan pada usaha skala besar.
Saat ini banyak usaha skala besar yang dibangun dari koperasi di beberapa daerah di Indonesia.
Menanggapi RUU koperasi yang sedang digodok, Sri Edi Swasono menilai ada beberapa kekurangan dalam draft RUU itu. antara lain koperasi tidak mencantumkan peran koperasi sebagai bagian integral dalam perekonomian nasional.
Sri Edi swasono tidak setuju rencana pemberlakuan saham dalam kepemilikan koperasi. Alasannya koperasi dibangun atas komitmen anggotanya yang tidak membedakan hak dan kewajiban anggota dalam memberikan kontribusi pada pengembangan usaha koperasi.
Pada orasi ilmiahnya pada 100 hadirin seminar tersebut, dia mengatakan sejak dulu koperasi merupakan soko guru perekonomian dan tulang punggung  ekonomi kerakyatan dalam pengentasan kemiskinan.Namun dalam kenyataanya, kepentingan koperasi sering digusur pada kepentingan pengusaha besar khussunya kesempatan mendapatkan kredit usaha.(rid)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: