Januari-Juli, 1057 Kasus DBD, 23 Meninggal

> Belum Ditetapkan Sebagai KLB
Balikpapan, Tribun – Selama Januari-Juli 2007 terdapat 1057 penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Balikpapan. Dari 1057 itu, sekitar 23 orang meninggal dunia. Umumnya mereka adalah anak-anak usia sekolah. Selain daya tahun tubuh anak-anak, tidak terdapatnya bank darah di beberapa rumah sakit disinyalir sebagai salah satu penyebab kematian. Demikian diutarakan Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Dyah Muryani ketika ditemui usai melakukan pertemuan dengan Komisi 4 DPRD Kota Balikpapan di Gedung DPRD, Jumat (27/7).

“Kemungkinan itu (bank darah, red) ada. Karena pihak rumah sakit kan harus bolak-bolak ke Palang Merah Indonesia (PMI), sementara mereka membutuhkan trombosit yang  fresh (segar, red). Butuh waktu lagi untuk diolah. Padahal, anak-anak waktunya pendek,” kata Dyah. Karena itu, tahun ini, DKK berencana untuk segera menyediakan Bank Darah di Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo (type B) dan Sayang Ibu. Di kedua rumah sakit itu, nantinya minimal terdapat 10 persen persediaan darah dari banyaknya kasus yang memerlukan darah. Bank darah itu tidak hanya digunakan bagi DBD, tapi juga kasus-kasus lainnya yang membutuhkan darah, misalnya persalinan. “Pihak rumah sakit akan bekerjasama dengan PMI. Saat ini, rumah sakit sudah mempunyai alatnya. Tinggal petugasnya yang perlu dilatih lagi,” kata Dyah.

Selain itu, Dyah juga mengungkapkan bahwa setiap 100.000 penduduk di Kota Balikpapan terdapat 194 penderita DBD. Angka ini lebih tinggi dari angka standar nasional yakni 20 penderita pada 100.000 penduduk. Tingginya angka ini tidak otomatis menyebabkan DBD di Balikpapan masuk dalam kategori Kejadian Luar Biasa (KLB). “KLB itu ada perhitungannya, misalnya kejadian bulan ini, kejadian bulan ini tahun lalu dan sebagainya. Untuk Balikpapan, walaupun tinggi, tapi angkanya mendekati Juli semakin menurun. Jadi ngga bisa dikategorikan KLB,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Komisi 4 DPRD Balikpapan Ali Mansyur mengatakan, penetapan status KLB DBD di Balikpapan bukanlah jalan keluar yang ampuh bagi pemberantasan DBD. “Saya pikir yang harus kita lakukan adalah bagaimana mengubah perilaku masyarakat kita. Kita harus rajin membersihkan tempat-tempat yang selama ini menjadi wadah jentik nyamuk,” kata Ali. Ia menyarankan agar Pemkot menggalakkan program gotong royong sekali dalam seminggu yang dilakukan secara terus menerus. Ini dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit DBD. Ia juga berharap agar DKK segera merealisasikan Bank Darah, karena DPRD sudah mengusulkannya sejak 2 tahun yang lalu. (m18)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: