Menjadi Surga Para Satwa

*Melihat Rehabilitasi Lahan

“Bila menjelang sore atau malam, kita sering jumpai kancil, kijang, babi hutan, macan dahan, bahkan ular piton yang besarnya seukuran paha manusia. Satwa-satwa itu saat ini menjadikan area ini tempat tinggal yang nyaman,”kata Nanang, karyawan Borneo Orangutan Survival (BOS), yang biasa lalu lalang di kawasan konservasi yang terletak di Km 44 Samboja, Kukar.

SUDAH hampir tujuh tahun, BOS beroperasi dan merehabilitasi lahannya di Kelurahan Margomulyo, Samboja, Kutai Kartanegara. Mungkin bisa dibayangkan, bagaimana kondisi area itu sebelumnya. Seperti halnya bukit-bukit yang berada daerah Batakan, Manggar dan Gunung Tractor Balikpapan, lokasi BOS ini dulunya hanya berupa alang-alang terbuka, yang didalamnya jarang sekali dijumpai binatang.
Maklum saja, 50 tahun silam, area terbuka ini merupakan tempat pembalakan kayu terbesar pertama di Indonesia. Kemudian, para penjarah itu meninggalkan tempat ini begitu saja, tanpa merehabilitasinya kembali.

“Sebelumnya ‘nol’, jangankan kehidupan, serangga pun gak ada, jadi panas telinga,” kata President Director BOS, Willie Smits. Kontan saja, kondisi yang demikian itu membuat kancil, kijang, babi hutan dan ‘kawan-kawannya’ ogah mendiami tempat seluas 1850 ha itu. Belum lagi kepunahan yang saat itu mereka (satwa ‘red) derita, akibat tidak adanya sarana tinggal yang nyaman dan minimnya sumber makanan.

Namun kini suasananya sudah berbeda. Beberapa jenis pohon khas Kalimantan sudah tumbuh dan berkembang di dataran Kukar ini. Lahan kritis yang dulunya berupa alang-alang, kini sudah beruba berubah seolah-olah tertutub oleh rerimbunan. Sudah lebih dari 732 jenis tanaman dan pohon, termasuk pohon fast growing (tanaman cepat tumbuh) berkembang di area ini. Akibat rehabilitasi massive ini, beberapa satwa liar juga sudah mulai kembali.
Seperti yang dikatakan Nanang di atas, beragam satwa seperti king kobra, piton, biawak, bekantan, lutung merah, beruk dan lebih dari 98 spesies burung sudah hadir di tempat ini. “Bahkan generasi elang juga sudah terlahir di sini,” ujar Smits.

Pemulihan lahan kritis ini dilakukan secara bertahap. “Awalnya, tahun 2000 lalu, luas lahan ini cuma 60 ha, kemudian diperluas 90 ha, 180 ha dan akhirnya sekarang 1850 ha,” kata Ishak Yasir. Untuk merubah iklim mikro di daerah itu, BOS melakukan penanaman jenis-jenis buah dan fast growing.     Sehingga, lanjut Ishak, dengan adanya perubahan itu diharapkan satwa-satwa yan dulunya mendiami kawasan itu akan kembali.
Selain menjadi surga bagi satwa liar, dampak lain dari rehabilitasi itu adalah memperbaiki fungsi hidrologis di kawasan itu. Sehingga kandungan air dalam tanah di kawasan itu kini sudah mencapai 50 juta meter kubik. Dan jumlah itu bisa menjadi lebih besar lagi, jika nantinya rehabilitasi sudah benar-benar terpenuhi 100 persen.
“Tiga tahun terakhir ini banjir di Margomulyo sudah mulai berkurang. Padahal dulu di kawasan ini sering  banjir bila hujan lebat,” kata Ishak.
Namun ada satu hal yang disayangkan. Jalan yang menjadi askes utama menuju lokasi BOS, yang juga tempat penelitian ini sangat memprihatinkan. Pihak BOS sendiri sudah sering meminta bantuan ke pemerintah Kukar, namun hingga kini belum terealisasi. Kondisi ini menyulitkan para pelajar, termasuk instansi yang akan berkunjung ke lokasi yang jaraknya 7 Km dari ruas jalan Balikpapan-Handil.(joi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: