Orangutan pun Cerdas Seperti Manusia

TERNYATA tidak hanya manusia yang mempunyai akal, orangutan pun juga memiliki pemikiran yang cerdik layaknya manusia. Buktinya, orangutan yang direhabilitasi di Borneo Orangutan Survival (BOS) Samboja, Kukar. Di kawasan BOS yang luasnya, sekitar 1850 ha ini terdapat enam pulau buatan. Pulau-pulau ini digunakan sebagai tempat merehabilitasi orangutan yang sakit hepatitis, dan tidak bisa dilepas liarkan atau dicampur dengan kawan-kawannya.

Namun di dalam area pulau buatan yang dikelilingi sungai itu, orangutan ‘penyakitan’ ini nampaknya cukup cerdas sekali. Mereka seringkali keluar dari area itu, baik dengan cara menyeberangi air hingga atau menggunakan batang pohon sebagai jembatan. Sebatang pohon yang telah mengering misalnya. Pohon ini mereka ayun-ayunkan hingga roboh, lalu digunakan sebagai hembatan untuk menyeberangi sungai, yang lebarnya kira-kira 2-3 meter. Situasi seperti itu tentu saja membuat, operator lapangan BOS kocar-kacir. Karena mereka tidak menyangka, bagaimana orangutan bisa keluar dari tempat tinggalnya.

Cara lain yang dipakai orangutan untuk keluar dari pulau itu adalah dengan mengukur kedalaman sungai. Bila mereka menemukan dahan pohon yang jatuh, orangutan biasanya akan menggunakan kayu itu untuk mengukur kedalaman sungai. Dan bila kedalaman sungai itu tidak melebihi lehernya, para orangutan itu nekat ‘nyebur’ dan keluar dari pulau. “Jadi petugas kita setiap hari berpatroli mengontrol area itu, untuk menyingkirkan dahan-dahan pohon yang jatuh, agar tidak dipakai orangutan untuk yang keluar dari pulau itu,” kata Manager Project of Wanariset Paramita Ananda.

Untuk memberikan tempat yang nyaman bagi orangutan dan anak-anaknya, pengelola BOS sengaja melengkapi pulau-pulau itu dengan berbagai mainan, seperti ayunan, tali yang menghubungkan satu tiang dengan tiang lain dan juga tempat berteduh. Saat ini, jumlah orangutan yang direhabilitasi di BOS sekitar 218 ekor, yang umurnya bervariasi dari  1 bulan hingga 20 tahun.

Ada juga cerita menarik lain mengenai orangutan di tempat itu. Gayatri misalnya. Orangutan yang baru berusia 1 bulan ini terpaksa harus tinggal bersama-sama dengan baby sitter. Gayatri ditinggalkan Golam, ibunya, yang usianya juga masih relatif muda, yakni sekitar 7 tahun. Menurut Paramita, Golam tidak mau menyusui Gayatri lantaran ‘ia’ merasa risih dan ‘kagok’, karena usianya yang masih relatif muda. Akibat perlakuan itu, baby sitter yang bekerja selama 24 jam mengurusi bayi-bayi orangutan, harus menyusuinya. Susu yang disuapkannya pun juga sama dengan bayi manusia, yaitu susu SGM 1 dan 3.

Selain enam pulau yang digunakan untuk menampung orangutan panyakitan. Di kawasan BOS juga terdapat sekolah hutan. Sekolah hutan yang berada jauh dari akses manusia ini hanya diperuntukkan bagi anak-anak orangutan yang usianya 2 hingga 5 tahun. Sayangnya, area ini tidak bisa dikunjungi, karena merupakan daerah terlarang untuk manusia, kecuali tenaga teknisi.(jo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: