Meningkatkan daya ingat

Minat dan kepentingan

Salah satu hal yang membuat kita memiliki daya ingat baik adalah adanya minat. Seorang sekretaris yang mencintai pekerjaannya dapat mengingat puluhan nama dan nomor telepon dari orang-orang yang biasa dihubunginya. Seorang anggota satpam mampu mengingat merek, jenis, dan nomor mobil karyawan perusahaan tempatnya bekerja. Mereka dapat mengingat karena mereka berminat atau berkepentingan pada hal-hal tersebut.

Sebaliknya, seorang pria mungkin sulit mengingat model sebuah gaun di etalase toko, bahkan tak ingat warnanya, apalagi jumlah kancingnya. Pasalnya, dia tidak berminat atau berkepentingan pada gaun itu. Namun, dia dapat dengan mudah mengingat merek, tipe, dan warna sepeda motor balap terbaru yang sekilas dilihatnya di areal parkir, sesuatu yang mungkin tidak dapat diingat seorang wanita.

Situasi dan tempat juga sering membantu seseorang untuk mengingat sesuatu. Seseorang yang baru kita kenal di bandara, ketika kita hendak ke luar kota, tentu mudah kita kenali begitu beberapa hari kemudian bertemu lagi di tempat yang sama. Namun, bila bertemu dia ketika kita sedang berlibur ke suatu tempat di luar negeri yang baru sekali kita kunjungi, ada kemungkinan kita lupa pada dia.

Sampai sekarang para peneliti masih belum sanggup menjelaskan secara tepat, cara otak mengingat sesuatu. Namun diyakini, selama hidup kita cuma menggunakan kurang dari 0,0001 bagian kemampuan otak kita sebenarnya.

Di balik kemampuan otak kita yang begitu besar, ternyata masih tersisa pertanyaan, “Mengapa manusia juga mudah, atau bahkan sering, lupa?” Lupa janji, lupa tempat barang tertentu, lupa nama orang, lupa yang hendak dibeli, dan masih banyak lupa lainnya.

Penyebabnya, selain tidak adanya minat dan kepentingan, serta situasi dan tempat yang mendukung tadi, otak juga memiliki mekanisme otomatis untuk melupakan hal-hal kurang penting. Coba bayangkan betapa rumitnya hidup bila otak mengingat semua hal yang kita temui, setiap wajah yang pernah kita lihat sekilas, setiap warna dan bentuk benda yang pernah kita pandang, setiap kata yang pernah kita dengar. Jadi, otak cuma mengingat hal-hal yang kita perhatikan secara khusus.

 

Perlu bicara sendiri

Untuk meningkatkan daya ingat, kita bisa memanfaatkan semua indera kita, terutama penglihatan dan pendengaran. Kita dapat mengingat sesuatu yang kita lihat. Begitu pula dengan yang kita dengar. Memanfaatkan gabungan kedua indera akan lebih memperkuat daya ingat. Maka, selain melihat, kita ucapkan sesuatu yang kita lihat dengan kata-kata kita sendiri. Ini akan lebih membantu kita untuk mengingat.

Nah, untuk membantu mengingat jika berkenalan dengan seseorang, dengarkan dengan saksama nama yang diucapkannya. Bila perlu tanyakan cara mengejanya. Kartu nama dapat membantu. Begitu kita sudah menambahkan nama itu dalam daftar nama yang perlu diingat, peluang lupa akan berkurang. Otak, seperti halnya komputer, tidak dapat mengeluarkan data yang pernah dimasukkan.

Ulangilah nama itu. Pada saat hendak berpisah, ulangilah namanya ketika bersalaman. Ketika bercerita dengan orang lain, lebih baik sebut nama orang yang kita ceritakan ketimbang menyebut hubungannya dengan kita, misalnya relasi, klien, dsb. Dengan begitu kesannya akan lebih dalam karena kita sudah mengulanginya beberapa kali.

Cara lain mengingat nama adalah dengan mengasosiasikan nama itu dengan sesuatu yang mirip kedengarannya. Misalnya, bila kita berkenalan dengan seseorang bernama Benyamin Mansur, kita dapat mengasosiasikannya dengan kata “dijamin manjur”. Contoh lainnya, Daniel Purba bisa diasosiasikan dengan “kuda nil hewan purba”.

Lebih baik lagi bila kita dapat membayangkannya. Umpamanya, Benyamin Mansur berdiri di tepi jalan sebagai penjual obat, menggelar dagangannya beralaskan koran, sambil berteriak-teriak, “Dijamin manjur, dijamin manjur.” Kita pasti akan lebih mudah mengingat namanya bila di lain waktu bertemu lagi dengannya (baca pula Intisari Juli 1998 hlm. 144).

Kita juga bisa berbicara sendiri tentang sesuatu yang kita rencanakan. Misalnya, “Saya harus membeli susu dalam perjalanan pulang nanti.” Juga tentang sesuatu yang telah kita lakukan. Misalnya, “Saya telah mengunci pintu.” Mungkin kedengarannya konyol, tapi terbukti sangat efektif. Di sini telinga kita menguatkan ingatan kita. Tapi ingat, mengucapkannya tak perlu keras-keras, supaya tidak menimbulkan pertanyaan di benak orang.

Mengulangi sesuatu membantu pula daya ingat kita. Kita bisa mengulangi suatu informasi yang baru didengar atau baca agar dapat tetap mengingatnya. Yang perlu diperhatikan, kita mesti berhati-hati agar tidak terkesan kita sedang memamerkan pengetahuan. Bila kita membaca sesuatu, yang dapat kita ingat hanya sekitar 20%. Dengan mengulangi pembacaan keesokan harinya, lalu minggu berikutnya, sebagian besar informasi yang kita baca akan kita ingat.

 

Jangan istirahatkan otak

Pada umumnya orang menghubungkan lupa dengan ketuaan. Memang, pertambahan usia mengakibatkan menurunnya reaksi, karena sel-sel otak tidak memperbaharui diri sendiri. Namun, ada beberapa cara untuk mempertahankan fungsi otak. Misalnya, bersikap optimis, pembawaan yang riang, olahraga bisa mengurangi stres yang menghambat fungsi otak untuk mengingat.

Terus menggunakan otak juga akan menguatkannya. Seperti halnya otot, otak yang sering digunakan akan menjadi lebih kuat. Jadi, tidak benar kita perlu mengistirahatkan otak agar kondisi otak tetap baik. Otak tidak seperti ruangan yang terbatas daya tampungnya. Atau seperti komputer yang terbatas kapasitasnya.

Ada puluhan miliar sel saraf dalam otak yang digunakan untuk mengingat. Semakin banyak data masuk, semakin banyak pula terbentuk sambungan antarsel saraf. Berarti, semakin besar kapasitas daya ingatnya. Jadi kata-kata “ingat di luar kepala” sebenarnya tidak terlalu tepat. Yang lebih tepat adalah “ingat di dalam kepala”.

Dengan daya ingat yang tajam, kita dapat memperoleh banyak manfaat. Kita tidak memerlukan alat bantu berupa catatan yang tidak selalu praktis. Contohnya, jika kita bertemu seseorang di kantor, memang kita mudah mencatat berbagai hal. Namun, bila bertemu di sebuah pesta tentu tidak praktis melakukan catat mencatat. Lagi pula, catatan bisa hilang atau tertinggal. Maka daya ingat kita merupakan “buku catatan” paling baik yang kita miliki tanpa harus membeli. (Berny Elim) Intisari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: