Peserta Jamsostek Banyak Tidak Aktif Lagi

Pelayanan Kurang Memuaskan

Bandung, Kompas – Sebanyak 2,14 juta pegawai di Jawa Barat tidak lagi menjadi peserta aktif Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Hingga April 2006, jumlah tenaga kerja yang masih aktif mengikuti Jamsostek hanya 1,32 juta. Ini karena kondisi ekonomi dan banyaknya kasus PHK.

Kepala Kantor Wilayah PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jam- sostek) Kantor Wilayah IV Jawa Barat-Banten Junaedi, di Bandung, Selasa (23/5), mengatakan, bila terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK), pegawai yang bersangkutan tidak lagi aktif menjadi peserta Jamsostek.

“Banyak perusahaan yang tutup. Indikasinya, didominasi tekstil karena kondisi globalnya memang sedang kurang baik,” kata Junaedi. Meski peserta Jamsostek aktif lebih sedikit, perusahaan yang aktif membayar iuran jumlahnya lebih banyak. Sampai April 2006, jumlah perusahaan yang aktif membayar Jamsostek sebanyak 9.200 perusahaan, sedangkan yang tidak aktif, 4.500 perusahaan.

Penyebab status non-aktif selain karena peserta tidak lagi bekerja, juga karena gaji karyawan yang sudah dipotong tidak dibayarkan ke PT Jamsostek. “Biasanya dipakai dulu. Sekarang ini sudah banyak yang berurusan dengan kepolisian dengan tuduhan penggelapan,” kata junaedi.

Bila tunggakan lebih dari satu tahun, lanjut Junaedi, PT Jamsostek akan melaporkan kepada Kantor Pengurusan Piutang dan Lelang Negara (KP2LN).

Iuran Jamsostek berasal dari potongan gaji karyawan sebesar dua persen untuk program jaminan hari tua. Perusahaan juga harus menyetorkan iuran sebesar 3,7 persen dari gaji pegawai, yang disetor sebagai tabungan, dan dapat diambil setelah pegawai tidak bekerja.

Ada pula setoran tunjangan kematian sebesar 0,3 persen dari gaji. Setoran lain, kecelakaan kerja 0,24-1,74 persen dari gaji tergantung pada bidang usaha. Perbankan, misalnya, iuran kecelakaan kerja sebesar 0,24 persen karena risikonya kecil. Pertambangan dan konstruksi 1,74 persen karena risiko tinggi.

Jika perusahaan tutup, kata Junaedi, perusahaan harus memprioritas- kan kepentingan pegawai. Setelah aset dijual, hak-hak buruh dipenuhi. Setelah itu, kewajiban lain dipenuhi termasuk pembayaran iuran jamsostek bila terjadi tunggakan.

“Tapi pengusaha tidak selalu baik, ada yang kabur setelah perusahaan tutup. Perusahaan yang sedang kesulitan biasanya tidak melapor,” kata Junaedi.

Target

Target perolehan pegawai peserta Jamsostek baru di Jabar tahun 2005 sebanyak 354.000 orang. Realisasi perolehan peserta melebihi target mencapai 431.000 orang.

Kepala Bagian Pengendalian Operasional PT Jamsostek Jabar-Banten Mulyo Artono menyarankan pengusaha yang pegawainya belum menjadi peserta Jamsostek agar mendaftarkan diri.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jabar Dedy Wijaya mengatakan, penyebab utama banyaknya pegawai Jamsostek non-aktif karena melemahnya perekonomian. Tidak ada peningkatan investasi secara siginifikan. Sementara penutupan perusahaan dan PHK terus terjadi.

“Kondisi ekonomi tidak menggembirakan. Ini tugas semua, pengusaha, serikat pekerja, dan pemerintah menyelesaikan masalah,” katanya.

Dedy mendukung program Jamsostek karena pegawai bisa mendapat jaminan hari tua, kesehatan, dan keselamatan. Namun, pegawai sering kecewa karena pelayanan Jamsostek dinilai lambat. Rumah sakit enggan jika pasien berobat menggunakan fasilitas Jamsostek.

“Itu jadi faktor keengganan mendaftar. Pelayanan Jamsostek kurang memuaskan. Perlu kompetitor agar kualitasnya lebih terpacu,” kata Dedy. (bay)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: