PT BEI Tawarkan PLTU Mulut Tambang

Balikpapan, Tribun – Dua Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara bakal dibangun di Penajam Paser Utara (kapasitas 2 X 60 MW) dan di Kutai Barat (kapasitas 2X 7 MW). Proposal pembangunan yang diajukan oleh PT Bina Energi Investama (BEI), rencananya bakal ditindaklanjuti dengan penandatanganan kerja sama pada hari ini, antara Pemkab PPU, Kubar dan Pemprov Kaltim dengan PT BEI dan PT PLN Wilayah Kaltim. Tawaran pembangunan PLTU yang keduanya diberinama Mulut Tambang tersebut, disampaikan PT BEI dalam acara makan malam yang dihadiri jajaran pejabat Pemda setempat serta pejabat PT PLN di restoran Chiang Palace Hotel Gran Senyiur, Senin (30/7) malam.

Djoko Winarno, CEO PT BEI mengatakan, pembangunan PLTU di PPU ini bakal menelan dana hingga 187 juta dolar AS atau Rp 1,6 triliun (kurs Rp 9.000 per dolar AS). Sementara untuk pembangkit di Kabupaten Kutai Barat sebesar 19 juta dolar atau Rp 171 miliar.

“Dana tersebut bersumber dari modal sendiri sebesar 30 persen yakni 56 juta dolar atau Rp 504 miliar dan kredit pada bank sebesar 70 persen yakni 130,9 juta dolar atau Rp 1,1 triliun. Perhitungan ini untuk pembangunan pembangkit di Kabupaten PPU,” kata Djoko. Yanmg dimaksud modal sendiri, kata Djoko, adalah modal yang bersumber dari Pemkab setempat dan Pemprov Kaltim serta PT BEI.

Dengan komposisi Pemkab PPU dan Pemprov Kaltim sebesar 20 persen atau Rp 144 miliar dan PT BEI sebesar 80 persen atau Rp 351 miliar. Sementara modal pinjaman berasal dari bank lokal dengan porsi 30 persen dan bank asing sebesar 70 persen. Kerjasamanya, menurut Djoko, proyek PLTU Mulut Tambang tersebut ditawarkan dalam bentuk Build, Operate and Own (BOO) dengan ketentuan, Pemkab PPU atau Pemprov Kaltim menyetor modal awal (equity) sebesar 20 persen atau Rp 144 miliar.

“Dana tersebut dapat diperhitungkan dari penyediaan lahan dan pembuatan infrastruktur penunjang yang akan dibangun melalui APBD. Dan seluruh pengeluaran pemda masing-masing merupakan penyertaan modal melalui Perusda,” ujar Djoko. Dipilihnya kerjasama BOO, menurut Djoko, karena memiliki manfaat yang luas bagi peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat di dua kabupaten tersebut, selain memberikan profit bagi para pihak yang bekerjasama.

Dan PLTU masih dapat diandalkan karena dirawat oleh yang ahli di bidangnya. Dengan demikian usai pembangkit diharapkan bisa lebih dari 25 tahun. Sementara, asumsi yang dipergunakan, lanjut Djoko, harga jual listrik ke PLN sebesar Rp 630 per Kwh di PPU dan Rp 615 di Kabupaten Kubar, dengan kenaikan 1 persen per tahun.

Sementara harga pembelian batu bara Rp 108.000 sampai Rp 135.000 per ton.(sar).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: