Wanita Gemar Melirik Kekasih Orang ?

Di tengah kesibukan bekerja, Eka, 28 tahun, masih menyempatkan diri untuk reuni dengan teman-teman semasa SMU-nya dulu. Tapi kali ini ada yang beda, Eka akan memperkenalkan pacar barunya, Indra, 27 tahun, kepada para sahabatnya. Dengan wajah ceria wanita cantik ini menyapa teman-temannya yang sudah duluan berkumpul di sebuah lounge, dan memperkenalkan Indra pada setiap setiap tamu di pesta itu. Tapi wajah cerahnya tiba-tiba murung saat Indra dengan ekspresi kaget bercampur senang menyalam Winny, 25 tahun, adik kelas Eka. �Winny, saya tidak menyangka bisa ketemu kamu di sini,� ujar Indra dengan wajah sumringah dan disambut oleh gelak tawa wanita cantik dan muda itu. Ternyata, mereka sudah saling kenal. Tentu saja hati Eka, jadi was-was. Maklum Winny punya reputasi untuk suka merebut pacar orang. Predikat �the other woman� sudah tenar dan melekat di dirinya. Sepulangnya dari pesta, Eka langsung memperingati Indra agar tak terlalu dekat pada Winny sambil memberikan sedikit review tentang korban-korban yang sudah berjatuhan akibat kelakuan minus sang teman. Kesalnya, Indra malah berkilah, �Dia teman masa kecil saya, saya sudah mengenalnya sejak ia menginjak bangku sekolah.�Pada saat bersamaan Winny, wanita yang disebut-sebut Eka sebagai �penjahat kelamin� ini menyetir mobil menuju apartemennya sambil asyik ngobrol di telepon selular dengan kekasih gelapnya, Made, seorang pria berumur 30 tahun yang notabene sudah menikah dan punya dua momongan. Obrolan seru sekitar kegiatannya hari ini dan kejadian lucu di pesta detail dibahas sambil diselingi canda tawa. Sampai akhirnya, terdengar suara wanita memanggil nama Made di ujung telepon. Dengan gugup Made langsung berbisik, �Sudah dulu, ya, saya dipanggil istri, nih.� Dengan muka kecut, Winny pun menyudahi pembicaraan. �Kenapa saya selalu tertarik pada pria terikat?� bisiknya di dalam hati. Padahal, banyak pria single dan punya potensi untuk dijadikan pacar ataupun calon suami yang sedang heboh mengejar-ngejarnya. Apa yang salah?

Pengidapnya adalah Korban

Menurut Ratih Andjayani Ibrahim, psikolog dari Personal Growth, sindrom wanita pengejar pria terikat ini adalah akibat dari tak tersalurkannya hasrat untuk pembuktian diri dan ego yang tak terpenuhi. Beberapa wanita menganggap usaha mendapatkan pria yang sudah terikat dengan orang lain memberikan tantangan sendiri. Pembuktian bahwa ia ternyata mampu menaklukkan pria dan lebih unggul dari wanita lainnya memberikan kepuasaan yang bikin egonya menjulang tinggi.

Coba dengar cerita Eleni, 23 tahun, tentang mantan pacarnya Kiki, 29 tahun. �Walaupun saya dan Kiki sudah putus dan masing-masing sudah punya pasangan lagi, saya tak bisa memungkiri bahwa saya masih mencintai dia,� ujar Eleni. �Saya tetap sering menelepon, mengirim sms pada Kiki, dan curhat tentang masalah-masalah pribadi terutama saat saya mengalami problem dengan Erwin, pria yang sedang dekat dengan saya saat ini yang juga salah satu sahabat baik Kiki,� cerita Eleni. �Bahkan saya sering meminta Kiki untuk mendamaikan saya jika saya sedang bertengkar dengan Erwin,� ujarnya dengan senyum geli. Saat curhat Eleni kerap menggoda Kiki dan bilang andaikan Erwin sekarang bisa mengerti dirinya seperti Kiki mengerti kepribadiannya. �Saya tahu kekasih Kiki berang saat tahu kelakuan saya ini dan minta Kiki untuk berhenti ‘menolong’ saya. Tapi pada saat bersamaan, diam-diam saya bangga Kiki lebih menuruti kemauan saya dibandingkan pacar barunya,� ujarnya. �Saya tak peduli kalau mereka putus, saya tahu Kiki akan tetap mencintai saya,� imbuhnya. Anehnya, ketika ditanya apakah ia akan kembali pada Kiki jika hubungan pria itu kandas, Eleni menjawab dengan tegas bahwa kemungkinan itu sangat kecil. Aneh?

Menurut ahli Cosmo, alasan lain di atas semua alasan adalah bisa saja wanita ini pada dasarnya tidak siap untuk terikat dan berkomitment secara serius. �Memiliki hubungan dengan pria yang sudah memiliki ikatan di tempat lain, membuatnya tidak wajib terikat secara penuh,�ujarnya.

�Faktor lain yang jadi penyebab wanita suka mengejar pria berpasangan adalah masa lalu yang kelam,� ujar Ratih. Semisal,mungkin dahulu Anda pernah punya pengalaman pasangan Anda direbut orang lain. Atau bahkan, ayah Anda mungkin pernah berselingkuh dan meninggalkan ibu beserta Anda untuk orang lain. Tentunya, pengalaman ini akan meninggalkan bekas luka pada diri Anda. �Sebagai pelampiasan tanpa sadar Anda mengejar dan berusaha merebut pria terikat agar sakit hati Anda terbayarkan.

Tak sampai di situ, rasa iri juga bisa jadi pemicu wanita terjangkit sindrom ketertarikan pada pria terikat ini. Contohnya Dian, 23 tahu, seorang model. �Saya sering iri saat melihat Sisca, teman saya sesama model, mendapatkan job lebih banyak dari saya,� ujar Dian. Lalu diam-diam saya mendekati pacarnya saat si dia sibuk pemotretan. Saya sering berpikir, �Sisca bisa mendapatkan jobjob tersebut, tapi kekasihnya bisa saya tundukkan,� lanjutnya. Ouch…

Hei, teman, walaupun wanita pengidap penyakit hobi merebut pasangan orang ini terkesan sangat manipulatif dan tak punya hati. Bisa saja sebenarnya dia sedang �sial� dan tak sengaja jatuh cinta atau dijatuhi cinta oleh seorang lelaki yang kebetulan sudah punya pasangan. Seperti yang dialami Amy, 23 tahun, saat sedang melakukan praktik kuliah kerja nyata di sebuah kota kecil. Di sana ia bertemu dengan Sonny 23 tahun, teman sekampusnya. �Berhubung kami berdua terdampar di tempat asing, saya dan dia jadi sering bertemu, saling menolong saat dibutuhkan, dan bahkan terbiasa bertukar cerita,� ujar Amy. �Saya tahu Sonny sudah punya pacar dan saya sendiri tak pernah berusaha untuk merusak hubungan mereka,� lanjutnya. Pelan-pelan, benih-benih cinta mulai muncul di antara mereka berdua dan kabar kedekatan mereka itu entah bagaimana sampai ke telinga, Hilda, 24 tahun, kekasih Sonny. Akhirnya, tak pelak julukan wanita perebut pacar jadi imej baru si manis Amy. Sebal.

Kenali Akar Permasalahan

Rekan Cosmo, akhirnya Anda tahu wanita pemilik sindrom pengejar pria terikat ini sebenarnya lebih banyak menderitanya dibandingkan mengalami hal-hal yang fun saat melakukan pendekatan pada pria incaran. �Jika Anda salah satunya, coba ulik-ulik kembali apa sebenarnya akar dari masalah yang Anda punyai,� ujar Ratih. Misalnya, alasan Anda mengejar pria yang sudah terikat sebenarnya hanya karena Anda haus tantangan dan ingin membuktikan diri bahwa Anda punya pesona lebih dan kekuatan untuk jadi magnet pria dibandingkan wanita lain. Ladies, mungkin ada baiknya Anda mencari tantangan lain yang tidak merugikan orang lain. Misalnya, carilah tantangan di dalam pekerjaan Anda dengan berusaha mendapatkan proyek-proyek prioritas dari si bos di kantor. Atau, isilah kekosongan hati Anda dengan ikut kegiatan sosial seperti menggalang dana bagi korban gempa atau banjir. Percayalah, Anda akan mendapatkan banyak tantangan untuk membuat sekitar Anda jadi lebih baik kondisinya.

Jika rasa sakit hati akibat pernah dikhianati bikin Anda merasa ingin membalas dendam, belajarlah untuk memaafkan. �Saya tahu ayah saya pernah selingkuh dan meninggalkan saya dan ibu untuk wanita lain,� ujar Riska, 25 tahun. �Tapi walaupun saya sempat tergoda untuk mengejar seorang pria beristri, saya menahan diri untuk tidak jatuh pada keinginan tersebut,� lanjutnya. Riska pun mengaku bahwa ia sekarang antipoligami dan bangga bahwa pengalaman buruknya di masa lalu bisa membuatnya lebih bijak dalam bertindak. Untuk ini Cosmo berikan acungan jempol.

Sayangi Diri-Sendiri

Ingat, Anda tak hidup sendiri di dunia ini. Sikap Anda yang tak perduli dengan sekitar termasuk konsekuensi retaknya hubungan pria incaran dengan pasangannya bisa berimbas dalam ketenangan jiwa Anda sendiri. �Akan banyak sebutan orang yang tak sedap didengar telinga yang mampir ke diri Anda. Begitu juga dengan sikap curiga berlebihan dari lingkungan sekitar,� ujar Ratih. Tentunya, Anda tak akan nyaman jika kemana pun Anda pergi orang-orang di sekeliling Anda langsung berpikir defensif walaupun berpura-pura bersikap manis di depan Anda akibat resume perjalanan asmara Anda oti. Dan Cosmo yakin, Anda sedikit was-was jika suatu saat nanti Anda kena karma dari perbuatan minus tersebut.

Okay, mungkin Anda bisa berkilah bahwa cinta Anda terhadapnya lebih besar dari pada cinta kekasih resminya terhadap si dia. Anda bisa bilang bahwa Anda tak percaya pada hal-hal seperti itu. Kenikmatan dan rasa bangga saat si dia yang sudah punya pasangan menghabiskan waktu dengan Anda mengalahkan segala logika. Tapi ayo jujur pada diri-sendiri, saat si dia sedang tidak berada di samping Anda, apakah Anda sering memikirkan apa yang sedang ia lakukan bersama pasangan resminya? Ups, rasa cemburu dan kesal akibat membayangkan si dia sedang bermesraan dengan saingan Anda itu pastinya bikin Anda tidak bahagia. �Bayangkan, saya harus bersaing untuk berbagi waktu dengan wanita itu dan pikiran saya tak tenang karenanya,� ujar Winny, rekan Cosmo. Saran Cosmo, sayangilah diri Anda sendiri dan keluarlah dari hubungan ataupun kebiasaan yang tak sehat ini. Anda berhak kok mendapatkan cinta utuh dari seseorang tanpa harus capai bersaing dengan orang lain. Sumber : http://www.cosmopolitan.co.id/v2/artikel.php?aid=605&isdetail=true

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: