Blitz Reading

Inilah Blitz-Reading (BR), teknik yang melibatkan pikiran sadar (conscious mind) dan pikiran bawah sadar (subconsious mind). Berbeda dengan membaca cara biasa, termasuk speed reading, yang hanya melibatkan pikiran sadar saja.

Sedikit orang yang tahu bahwa potensi pikiran bawah sadar dalam hal meng-akuisisi suatu pengetahuan dan ketrampilan adalah jauh melebihi kekuatan pikiran sadar. Perlu dicatat bahwa hampir-hampir semua ketrampilan yang kita miliki sebenarnya selalu pada dataran unconsious competence (kompetensi bawah sadar). Semisal menyetir mobil, kita tidak berminat kalau setiap menyetir harus terus menerus mengingat apakah pedal kopling sudah diinjak dengan kaki kiri dan seterusnya. Kita lebih senang melakukan semuanya secara otomatis di bawah kesadaran kita. Inilah kehebatan pikiran bawah sadar yang akan kita kupas habis dan dimanfaatkan potensinya dalam hal “membaca”.

Blitz-Reading dilakukan dengan cara memby-pass informasi yang masuk ke mata langsung ke bawah sadar, tanpa melewati pikiran sadar yang penuh dengan filter. Melalui Blitz-Reading informasi di ‘download’ secara mental-fotografis, bukan dibaca. Seperti kerja sebuah alat scanner atau mesin fotokopi yang mencopy bahan langsung selembar, bukan kata perkata. Beberapa orang mengira teknik ini dilakukan dengan cara memfokuskan / mengkaburkan fokus mata seperti melihat gambar stereogram.
Blitz-Reading  memerlukan 3 tahap sebagai berikut :

1. Persiapan
2. Blitz-Reading
3. Konversi

TAHAP I  : PERSIAPAN
a. Accelerated Learning dan anchoring
Proses BR juga harus dilakukan dalam kondisi accelerated learning. Yakni kondisi ideal untuk membaca karena tubuh fisik kita rileks namun pikiran kita siaga. Pada kondisi pikiran ini, kita akan mudah untuk memahami secara keseluruhan, lebih mengingat, dan memanggil kembali yang pernah dibaca. Latihannya sangat mudah, prinsipnya adalah menurunkan gelombang otak pada kondisi alpha/theta. Dilakukan dengan cara relaksasi progresif, mengendorkan/merilekskan seluruh otot tubuh, lakukan dengan tersenyum, damai dan bernafas panjang namun santai (tidak dipaksakan panjang). Berlatih selama beberapa saat, akan membuat Anda mencapai titik seperti ‘mengambang’ atau memasuki dimensi lain (silahkan dicoba saja, anda akan mengerti sendiri). Setelah bisa mencapai kondisi ini, buatlah anchor sehingga mudah diakses lagi.

Saat hendak menggunakan untuk Blitz-Reading, piculah anchor tersebut lantas bayangkan/rasakan mata Anda berpindah ke atas telinga anda. Lihatlah buku dari arah belakang atas diri anda, jika anda lakukan hal ini, anda akan merasakan suatu pergeseran medan penglihatan. Anda akan melihat dengan pheripheral viewing, dengan suatu sensasi meluasnya bidang pandangan anda, dan bahkan anda akan bisa melihat tangan yang memegangi buku itu. Kondisi ini akan mempermudah Anda mengelola informasi jauh lebih banyak dari biasanya, karena kedua pikiran kita terlibat.

b. Menentukan tujuan, dan gunakan afirmasi
Tahap sederhana namun sangat penting, karena pikiran bawah sadar perlu dinavigasi, jika tidak ia akan berjalan sendiri. Navigasi pikiran dimulai dengan menyatakan tujuan secara jelas dan spesifik, dan diucapkan sebagai afirmasi. Ada dua afirmasi penting dalam BR ini, afirmasi pertama adalah mengenai tujuan, afirmasi kedua adalah mengenai keyakinan sukses dalam menjalani proses BR. Ingat afirmasi ini akan sukses jika pikiran anda berada pada kondisi alpha / theta, sehingga tidak direcoki alam sadar yang kritis.

Saya berikan beberapa contoh dari 2 jenis afirmasi ini, silahkan pilih, dan palingbaik afirmasinya adalah buatan anda sendiri.

Afirmasi goal :

  • “Setelah selesai melakukan BR, saya ingin mengerti bacaan ini secara umum”
  • “Saya ingin mengerti dan mengingat fakta spesifik”, dan sebagainya.

Afirmasi keyakinan proses :

  • ”Saat melakukan Blitz-Reading, saya dapat berkonsentrasi sepenuhnya.”
    ”Semua yang saya Blitz-Reading  akan membuat kesan jangka panjang di pikiran bawah sadar saya, dan siap dipergunakan kapanpun.”

c. Mendapatkan kerangka pikiran
Anda perlu memberikan kerangka pikiran buku tersebut pada pikiran bawah sadar, agar struktur informasinya jelas. Lakukan tinjauan ini secara cepat saja, sekedar dibaca dan mendapatkan perasaan mengerti atas susunan pokok pikiran buku tersebut. Sebuah buku cukup 2-5 menit saja. Adapun yang perlu anda perhatikan adalah :

  • Judul dan sub judul
  • Tulisan di sampul dan punggung belakang buku
  • Daftar isi  (kerangka)
  • Halaman pertama dan akhir
  • Kata / konsep kunci :
    • Teks yang dicetak tebal atau italic)
    • Hal-hal yang dicetak dalam kotak, gambar, tabel atau grafik
    • Indeks, terutama pada kata yang sering muncul di banyak halaman
  • Kesimpulan

TAHAP 2  BLITZ-READING
a. Masuki mental-photograp state
Kondisi mental-photograp berguna untuk menset-up hubungan langsung dengan pikiran bawah sadar bagi masuknya informasi visual. Dilakukan bukan dengan cara memfokuskan mata secara tajam atau mengkaburkannya. Juga bukan dengan cara membaca ‘ide’ kalimat, ataupun membaca sekelompok kata sekaligus seperti speed reading. Perlu digaris bawahi, mental-photograp bukanlah membaca, boleh diulangi sekali lagi bukanlah membaca. Jadi Anda tidak membaca apa-apa dari sebuah buku pada tahap ke 2 ini. Sebab kalau kita memfokuskan diri pada kata-kata, justru akan berurusan dengan pikiran sadar, padahal yang kita butuhkan adalah kemampuan pikiran bawah sadar.

Caranya adalah dengan melihat keseluruhan dari sebuah buku terbuka. Pandanglah pada keseluruhan halaman putihnya dengan pandangan yang rileks dan luas, hindari melihat pada kata-katanya. Lakukan dengan lembut, maka anda akan melihat halaman secara lebih jernih dan lebih dalam, seolah-olah 3 dimensi.

Ada berbagai cara dalam mengakses mental-photograp ini, saya hanya akan mengulas satu saja yang paling mudah yakni sistem X. Perhatikan buku yang terbuka tepat di tengah lipatannya, secara rileks perluas medan penglihatan sehingga dapat melihat ke empat sudut buku. Perlembut pandangan anda sehingga huruf cetakan tidak dalam fokus yang tajam. Perhatikan tepian kosong dan ruangan putih di antara paragraf. Bayangkan sebuah garis silang (X) imajiner yang menghubungkan ke empat sudut buku.

Jika dilakukan dengan benar, maka di tengah lipatan buku (batas ke 2 halaman), akan muncul sebuah halaman sempit yang berujung bundar yang seperti gulungan kertas. Jika pada awal tidak terlihat, hal itu biasa saja. Hal yang terpenting adalah tetap memperhatikan ke empat sudut buku dan garis silang (X) penghubung imajinernya, serta menghidari membaca kata-katanya.

b. Ritme dan Postur Tubuh
Lakukan proses membalik halaman secara cukup cepat dan stabil, dengan cara tangan kiri memegangi buku, sementara tangan kanan membalik halamannya. Jangan cemas dengan halaman yang tidak terbuka, anda akan bisa mengulanginya lagi nanti. Serahkan dan percayakan saja pada alam bawah sadar.

Setiap satu halaman satu detik atau kurang. Lihat langsung kedua halaman dengan pandangan lembut. Pandangan anda memperhatikan empat sudut buku dan garis imajinernya (X) serta ruangan putih dan bukan kata-katanya. Beberapa orang bahkan melakukannya dengan bukuterbalik, agar tidak tergoda membacanya.

Postur ideal dalam Blitz-Reading adalah duduk tegak, letakkan buku bersudut miring sehingga terlihat tegaklurus dari mata anda. Tempelkan ujung lidah di belakang gigiatas, dan tarik sedikit dagu anda ke dalam. Tulang belakang usahakan lurus agar energi mengalir lebih baik ke otak anda. Usahakan kedua kaki menapak di lantai dan tiak bersilangan.  Jaga nafas anda agar tetap dalam dan rata.

c. Akhiri dengan rasa ‘berhasil’
Daya kritis pikiran sadar secara alami cenderung mempertanyakan apa hasil Blitz-Reading? Hindari mengikuti pemikiran ini agar informasi yang sudah anda downoad tidak tersabotase.

Hal terbaik yang bisa anda lakukan dengan alam sadar adalah, memintanya untuk mengakhiri proses in dengan suatu rasa ‘berhasil dengan baik”. Hal ini akan memberikan suatu jalur awal bagi otak anda memiliki akses ke informasi yang sudah di Blitz-Reading. Gunakan afirmasi berikut (jaga tetap dalam alpha), atau anda buat afirmasi Anda sendiri :

“Saya yakin sudah memasukkan informasi ke bawah sadar saya dengan baik, dan sekarang memberikan kesempatan pada tubuh dan pikiran saya untuk memproses pemikiran ini”

TAHAP 3  KONVERSI
Konversi dalam Blitz-Reading adalah memindahkan dan mengubah (konversi) pemahaman bawah sadar Anda ke level sadar. Proses Konversi setelah Blitz-Reading berbeda dengan proses ‘memanggil ulang’ apa yang sudah anda pernah baca dengan cara biasa (cara normal). Teknik Konversi didisain untuk merangsang ulang dan memperkuat hubungan sirkuit syaraf yang baru terbentuk setelah Blitz-Reading .

Beberapa orang dikaruniai mengalami suatu konversi spontan. Yakni proses konversi yang terjadi dengan sendirinya tanpa stimulasi khusus. Jadi semacam mengalami efek “Aha!”, pengalaman secara tiba-tiba mendapatkan solusi dari problem yang sudah menghantui selama berhari-hari. Konversi spontan bisa terjadi karena kita sudah memiliki pola syaraf dalam otak yang kita rekam saat Blitz-Reading  sebelumnya. Dan karena suatu pemicu (alami) yang pas, maka pola itu muncul ke permukaan secara spontan. Hal ini mirip dengan cetusan ide kreatif yang tiba-tiba. Perlu dicatat, sekalipun terasa bak mukjizat dan sangat menggairahkan, namun mengalami Konversi secara spontan tidak menunjukkan bahwa orangnya memiliki suatu ‘bakat’ tertentu atau ‘keunggulan’ tertentu dibanding orang yang tidak mengalaminya. Ingat semangat NLP, jika ada orang yang bisa melakukan sesuatu, maka kita juga bisa melakukannya. Kita semua sudah punya semua sumberdaya, tinggal mengakses, memperkuat dan mengurutkannya.

Nah, penjelasan berikut adalah mengenai Konversi manual. Yakni suatu cara sengaja untuk mempercepat perangsangan ulang otak, mengkonversi informasi yang ada di pikiran bawah sadar dipindahkan ke pikiran sadar.

a. Lakukan pengendapan
Kita perlu memberikan kesempatan pada alam bawah sadar untuk melakukan sistematisasi / pembuatan pola dan jalur sirkuit saraf. Secara sederhana sebut saja sebagai pengendapan di pikiran bawah sadar. Setidaknya 15 – 30 menit cukup bagi yang terlatih, namun yang paling baik adalah mengendap dalam tidur, khususnya tidur di malam hari.

Saat pengendapan ini, kita memberikan waktu pada otak untuk mengintegrasikan informasi dengan jaringan syaraf. Paing baik, lakukan afirmasi sebelum anda melakukan pengendapan ini, ingat selalu melakukan afirmasi dalam kondisi alpha / theta.

b. Memberikan rangsangan pada pikiran
Perangsangan pada pikiran, akan berefek seperti kita menowel-nowel agar pikiran menggeliat dan terpicu. Cara terbaik memberikan rangsangan pikiran adalah melalui pengajuan pertanyaan pada diri sendiri :

  • Apa pentingnya buku ini bagi saya?
  • Apa point utamanya?
  • Apa yang dapat membantu saya dari bahan ini?
  • Apa yang perlu saya ketahui dari buku ini agar ujian saya berhasil?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini menstimulasi rasa ingin tahu dan mengirimkan rangsangan pada sistem penyimpanan bawah sadar yang terdalam. Membuka sumbat saluran-saluran informasi dan menyalurkan jawabannya kepada anda.

Pada level ini jangan terlalu berharap mendapatkan jawaban seketika.  Bahkan jangan sekali-kali memikirkan apa jawabannya, karena bisa membuat frustasi. Ajukan saja pertanyaan dengan penuh rasa ingin tahu, hindari memikirkan jawabannya. Jawaban yang kita harap akan muncul dengan sendirinya, bukan dengan jalan dianalisis.

Sebagai variasi bisa juga minta beberapa kawan yang tertarik isi buku itu untuk berdiskusi, atau mintai beberapa kawan untuk mengetes Anda dengan berbagai pertanyaan sembari mereka membaca buku itu. Lakukan secara fun dan santai. Jangan cemas kalau belum bisa menjawab, tujuannya hanya membuat pancingan saja ke alam sadar.

c. Lakukan scanning
Buka buku perlahan, ikuti kata hati anda, jika ada halaman yang terasa menggerakkan hati, baca bagian itu. perlakukan secara penting. Baca satu atau dua kalimat sampai anda merasa bahwa anda sudah menerima apa yang anda inginkan dari bagian itu. Kemudian lanjutkan membuka-buka buku itu lagi sampai menemukan rasa tergerak lagi.

d. Membuat Peta Pikiran
Secara umum, kita mengenal dua jenis cara mencatat, pertama secara linear seperti di sekolah, kedua menggunakan peta pikiran ala Tony Buzan. Peta pikiran ala Tony Buzan ini amat baik untuk dipergunakan sebagai alat Konversi.

Peta pikiran dibuat dengan menggunakan kerangka pikiran (kata kunci) yang sudah anda catat di bagian awal BR ini, gambarlah mulai dari tengah kertas, gunakan pena warna, dan gunakan simbol jika perlu.

Sebagai variasi, pada bagian awal saat anda memahami kerangka sebelum BR, anda bisa langsung membuat peta pikiran ini dulu. Setelah selesai dan sudah melalui pengendapan, gambarlah ulang peta pikiran itu lantas bandingkan untuk saling melengkapi.

PENUTUP
Nah, komplit sudah ulasan mengenai Blitz-Reading, untuk lebih puas Anda bisa mengikuti pelatihannya. Sebenarnya ada satu hal yang saya khawatirkan, akan banyak penulis dan toko buku mengeluh karena bukunya tidak laku. Kita akan melihat orang-orang berjongkok di toko buku melakukan BR setiap hari.

Satu ide yang penting di akhir tulisan ini, beberapa kali lakukan BR pada kitab suci dari agama Anda. Jangan ditunda, setiap ada waktu kosong atau menjelang tidur, BR-lah kitab suci Anda. Pilih kitab suci yang ada terjemahan dalam bahasa Indonesia. Nah, pada suatu saat Anda tengah dirundung masalah, ambil kitab suci itu. Tentukan niat ingin mendapat jawaban persoalan apa, lantas lakukan scanning (membuka cepat) dengan cara rileks. Hasilnya? Silahkan dipraktekkan dan sharing pada bagian komentar di bawah ini.

Sumber : http://ronnyfr.com/?p=38

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: