KWPLH Buka kawasan enclosure Anjing dan Kucing

* Pelihara  57 ekor Kucing dan 6 Ekor Anjing
Jejeran pohon palm, pepohonan dan tanaman perdu dan semak yang tumbuh subur terasa sejuk saat melintasi  Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH) di KM 23 Balikpapan. Kawasan yang sebelumnya dikenal kawasan Agrowisata itu itu juga dilengkapi dua wahana enclosure perawatan anjing dan kucing. Selain menikmati kaasan wisata dan outbond dan bermain, Pengunjung yang datang bisa memperoleh tambahan wawasan  seluk beluk pemeliharaan hewan anjing dan kucing.
Saat ini sebanyak  59 ekor kucing dan 6 ekor anjing di lokasi enclusure baru tersebut.  Kucing dan anjing ini yang dirawat berasal dari hewan  terlantar dan kurang dipelihara di sekitar kawasan. Pemeliharaan hewan tersebut merupakan enclosure kucing dan anjing yang masih bersifat sementara dan tetap diperbaiki. Didukung dua orang relawan dari peneliti Belanda dan Amerika serta petugas perawatan, enclosure ini juga memberikan wawasan pada pengunjung khususnya mengenai cara menghindari penularan penyakit heawn anjing dan kucing ke manusia khususnya  bahaya taxoplasmosis.
Manager Pengelola enclosure anjing dan kucing Alexandra Redman  menerangkan tidak benar memelihara, mengelus dan memegang kucing menimbulkan penyakit  taxoplasmosis bagi ibu hamil yang dikhawatirkan menimbulkan anak lahir cacat. Menurutnya penyakit taxoplasmosis hanya menular dri  penularan virus dari kotoran atau terjangkit ketika masuk kandang. sedangkan mengelus dan memegang kucing tidak mempengaruhi resiko cacat pada anak. Untuk menghindari resiko penyakit itu diperlukan  vaksinasi rutin
Akibat kebiasaan tidak baik banyak orang di sekitar yang tidak mau memelihara terlalu banyak kucing atau anjing, maka ada yang membuang anak kucing ke kawasan. Akibatnya banyak kucing berkeliaran yang sering mengganggu pengunjung dengan berkumpul dan juga mengorek-ngorek sampah di tong sampah. Melihat bahwa hal tersebut tidak sedap dipandang dan tidak baik bagi kesehatan kucing tersebut, maka manajemen merawat kucing sesuai standard yang baik.
Pemeliharaan kucing dan anjing yang dilakukan dibantu oleh volunteer asing yang bekerja sukarela di kawasan. Pemeliharaan termasuk pemberian makan, pemeliharaan kesehatan, vaksinasi, dan pembuatan enklosur (arena bermain dan istirahat). Penyediaan makanan dan perawatan kesehatan kucing dan anjing memakan biaya yang tidak sedikit, malah sudah melebihi biaya makan untuk 5 ekor beruang di kawasan.
Penanggung Jawab pengelolaan KWPLH Satria Iman menerangkan salah satu cara untuk mengurangi penambahan jumlah hewan adalah dengan melakukan pengebirian. Semua kucing dan anjing di KWPLH dikebiri agar jumlahnya tidak bertambah sehingga dapat menimbulkan pembengkakan biaya. Proses kebiri ini adalah prosedur standard kontrol populasi di banyak negara yang diterapkan kepada orang yang memelihara untuk binatang kesayangan di rumah.
“Pengebirian tersebut bertujuan agar populasinya tidak bertambah banyak” kata Gabriella M Fredriksson peneliti dari Belanda.
Manager perawatan Anjing dan Kucing KWPLH Alexandra Redman menuturkan pengebirian itu dilakukan agar aning dan kucing tidak beranak untuk selamanya. Cara ini sudah diterapkan di negara kawasan negara Eropa dan Amerika. Alasan pengurangan populasinya adalah populasi beranak kucning dan anjing sulit terkendali. Dalam waktu tujuh tahun sepasang kucing melahirkan 420.000 ekor dan Kelahiran anjing mencapai 76.000 ekor.
Beberapa negara menyediakan kendaraan keliling untuk operasi kebiri di lapangan langsung.
Ada juga negara (seperti Singapore) yang membolehkan hanya beranak satu kali, kemudian wajib dikebiri, dan didaftarkan ke lembaga pemerintah. Di Indonesia dan juga Balikpapan belum ada pengaturan yang jelas soal kontrol populasi ini.
Sterilisasi kucing dan anjing juga bermanfaat untuk mengontrrol perilaku dan untuk kesehatan mereka sendiri. Sterilisasi akan mengurangi resiko kucing terkena beberapa jenis penbyakit, sedangkan untuk jantan akan mengurangi agresivitas berkelahi dan berkelana dan kencing di sembarang banyak tempat. Jika kota tidakmelakukan kontrol populasi atau sterilisasi, akan berdampak pada kesehatan masyarakat, karena dapat kita temui sekarang ini di tiap tempat sampah (TPS) selalu ada sekitar 5 ekor kucing yang mencari makan dan mnegorek serta membuat sampah tam,
Untuk KWPLH, program pemeliharaan kucing dan anjing juga dimaksudkan untuk sebagai percontohan dalam rangka progream pendidikan liongkungan hidup. Semua sistem dilaksanakan agar sesuai standard internasional, sehingga bagi masyarakat yang datang dapat belajar juga bagaimana seharusnya memelihara kucing dan anjing yang baik. Pelajaran yang dapat ditiru adalah terkait cara penanganan sehari-hari (cara pegang, angkat, tidur, bermain, pembiasaan buang kotoran), perawatan medis (kesehatan: kutu kucing, rontok bulu, kudisan, luka, sakit mata belekan), pengaturan nutrisi makanan, dan pelatihan perilaku (terutama anjing).(
Kontak Informasi KWPLH
1.    Satria Iman Pribadi (Penanggung Jawab KWPLH), Telp. 0542 7108424
2.    Gabriella Fredriksson (Peneliti Beruang Madu, Anggota Badan Pengelola Hutan Lindung Sungai Wain, Peneliti Beruang Madu, Asal kewargenegaraan Belanda)
3.    Alexandra Redman (Panggilan Ali), Volunteer Konsultan Penanggung jawab pengelolaan Beruang dan Hewan peliharaan di KWPLH, warga negara Amerika, sudah di
Balikpapan sejak 2004)
Sumber : KWPLH Balikpapan.(rid)

5 Beruang madu Sitaan dipelihara di KWPLH
Balikpapan, Tribun – Kepedulian sejumlah masyarakat Balikpapan terhadap perlindungan beruang madu  masih rendah. Buktinya dalam beberapa razia satwa langka sekian tahun terakhir disita 5 ekor beruang madu diamankan  dari kolektor binatang. Kini beruang madu sitaan itu dipelihara di  Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH).
Penanggung Jawab Pengelolaan KWPLH Satria Iman menerangkan  saat masuk ke kawasan enclosure beruang madu. Kondisi 5 beruang madu  memprihatinkan. Sebagian beruang madu sudah copot kukunya.
Ada juga yang matanya buta dan luka. Hewan yang menjadi simbol kota Balikpapan itu diperoleh dari sitaan satwa langka sejak tahun 2004.
“5 beruang madu itu kini ditempatkan di  enclosure agar mereka hidup di lingkungan alaminya.” katanya Kamis (22/3).
Kawasan Enclosure Beruang Madu itu juga dijadikan kawasan wisata pendidikan. Pengunjung yang ingin mengetahui pemeliharaan  beruang madu di habitatnya dapat melihat langsung kawasan pemeliharaan beruang madu di KM 23. Pengunjnug dapat melihat aktfiitas beruang madu dari atas boardwalk. dlam lokasi alami hutan kecil seluas 1,3 hektar itu, beruang madu dapat diamati sedang bermain di air, memanjat, membonakar kulit pohon, menggali tanah, menjelajah hutan dan aktifitas layai sebagaimana layaknya bintang itu berada di habitat alaminya  Pengelola KWPLH juga membangun enclosure anjing dan kucing yang total seluruh enclose memakan biaya Rp 1 Miliar termasuk didalamnya untuk pembagnunan gedung dan sarana prasarana.
Peneliti Beruang Madu dari Belanda yang juga pengelola enclosure beruang madu Gabriella M Fredriksson menerangkan  informasi lebih lengkap tentang berbagai jenis beruang madu di dunia saat ini sedang dibangun pada pergola-pergola informasi yang saat ini dibangun.
Manager Pengelola KWPLH lain Alexandra Redman menerangkan di areal lahan tersebut juga sedang dipersiapkan berbagai arena bermain anak, taman bunga, lamin informasi pengetahuan beruang madu dan hewan dan wisata outbond.(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: